Renungan Harian: Berpuasa bukan sekadar mengekang diri, tetapi mau berkurban bagi sesama

55

Renungan Harian 20 Februari 2026
Bacaan I: Yes 58:1-9a
Bacaan Injil: Mat 9:14-15

Masa Prapaskah kembali mengundang kita masuk dalam perjalanan rohani yang lebih mendalam. Gereja mengajak kita melakukan tiga tindakan rohani penting—berdoa, berderma, dan berpuasa—sebagai jalan pemurnian diri. Namun ketiganya hanya bermakna bila dilakukan dengan hati yang tulus, bukan sekadar ritual lahiriah..

Melalui mulut nabi Yesaya, Tuhan menegur umat yang hanya berpuasa secara lahir, tetapi hatinya jauh dari kasih dan keadilan. Tuhan menegaskan bahwa puasa yang dikehendaki-Nya bukan sekadar menahan diri dari makanan, melainkan tindakan nyata yang membebaskan dan memulihkan kehidupan sesama: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman… memerdekakan orang yang teraniaya… memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar… membawa ke rumahmu orang miskin… dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.” (Yes 58:6-7).

Inilah inti puasa sejati: Puasa yang menggerakkan hati untuk peduli, puasa yang menggerakkan tangan untuk menolong, puasa yang menggerakkan hidup untuk berbagi.

Ketika puasa kita sampai pada tindakan kasih, Tuhan berjanji: “Terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan sembuh dengan segera.” (Yes 58:8). Artinya, pertobatan yang lahir dari hati akan memunculkan terang baru dalam hidup kita—terang damai, terang sukacita, dan pemulihan yang datang dari Allah sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa masa puasa adalah masa kerinduan dan pencarian wajah Allah. Maka berpuasa berarti membuka ruang dalam hati agar Tuhan tinggal dan bekerja di dalam diri.

Berpuasa bukan sekadar mengekang diri, tetapi mau berkurban bagi sesama. Puasa yang sejati adalah ketika: mata kita lebih peka terhadap mereka yang menderita, hati kita lebih luas untuk mengampuni, tangan kita lebih ringan untuk menolong, dan seluruh hidup kita menjadi persembahan yang menyenangkan hati Tuhan.

Mari kita menjalani Prapaskah ini dengan pertobatan yang mengalir dari kedalaman jiwa. Semoga Tuhan menuntun langkah kita dalam puasa yang sejati. Tuhan memberkati. Ave Maria!