Temu Pastores 2026 Keuskupan Manokwari–Sorong Resmi Ditutup: Uskup Tekankan Semangat Perutusan dan Peran Orang Muda dalam Gereja Sinodal

3

SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Rangkaian kegiatan Temu Pastores (TePas) 2026 Keuskupan Manokwari–Sorong resmi ditutup melalui Perayaan Ekaristi Kudus yang berlangsung khidmat di Gereja Katedral pada Jumat, 23 Januari 2026. Perayaan penutupan ini dipimpin oleh Uskup Manokwari–Sorong, Yang Mulia Mgr. Hilarion Datus Lega, dan didampingi oleh delapan Ketua Tim Pastoral Wilayah (TPW) yang mewakili seluruh wilayah pastoral di keuskupan. Acara tersebut turut dihadiri oleh seluruh peserta TePas, umat Paroki Katedral, serta didukung oleh penampilan koor OMK TPW Sorong.

Rangkaian kegiatan Temu Pastores (TePas) 2026 Keuskupan Manokwari–Sorong resmi ditutup melalui Perayaan Ekaristi Kudus yang berlangsung khidmat di Gereja Katedral pada Jumat, 23 Januari 2026.

Penutupan ini menjadi puncak dari proses refleksi, evaluasi, dan penyegaran pastoral yang telah dijalani para imam, pelayan pastoral dan OMK selama beberapa hari. Seluruh rangkaian diarahkan untuk memperkuat semangat sinodalitas, kolaborasi lintas wilayah, serta pembaharuan panggilan pelayanan di tengah Gereja.

Perutusan yang Terus Berlanjut: Homili Uskup Hilarion

Dalam homilinya, Uskup Hilarion Datus Lega menegaskan kembali bahwa panggilan dan perutusan para murid Kristus tidak pernah berhenti pada saat seseorang menjawab panggilan tersebut. Panggilan itu, menurut beliau, merupakan proses yang terus berkembang berkat karya Roh Kudus yang tidak pernah berhenti bekerja dalam diri setiap pelayan Gereja.

“Perutusan para murid tidak selesai pada saat mereka dipanggil dan diutus. Perutusan itu terus berlanjut karena Tuhan sendiri menyertai mereka. Roh Kudus tidak pernah berhenti berkarya, demikian pula misi gerejawi dalam diri kita,” tegas Uskup.

Uskup menekankan bahwa setiap imam, petugas pastoral, dan kaum muda Katolik dipilih untuk menjadi instrumen melalui mana Tuhan bekerja. Dengan demikian, pelayanan Gereja harus dijalankan dengan kesadaran bahwa karya sejati berakar dari penyelenggaraan ilahi, bukan semata-mata usaha manusia.

Beliau juga menggarisbawahi pentingnya memandang Temu Pastores sebagai sebuah momentum penyegaran panggilan. Dalam perspektif spiritualitas, keberhasilan dalam pelayanan pastoral merupakan wujud nyata karya Tuhan.

“Dalam ilmu kerohanian dikatakan, bila kita bangga atas keberhasilan, itulah bagian dari karya Tuhan. Tetapi bila kita bersedih atas kegagalan, itu benar bahwa hal tersebut bukanlah tanggung jawab Tuhan,” jelasnya.

Uskup menekankan bahwa setiap imam, petugas pastoral, dan kaum muda Katolik dipilih untuk menjadi instrumen melalui mana Tuhan bekerja. Dengan demikian, pelayanan Gereja harus dijalankan dengan kesadaran bahwa karya sejati berakar dari penyelenggaraan ilahi, bukan semata-mata usaha manusia.

Christus Vivit: Kristus Hidup dalam Diri Orang Muda

Dalam bagian lain homilinya, Uskup Datus secara khusus menyoroti peran strategis orang muda dalam dinamika Gereja, dengan mengacu pada Apostolic Exhortation Christus Vivit yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2019.

“Paus Fransiskus menegaskan bahwa Christus vivit – Kristus hidup. Dinamika, kreativitas, dan semangat orang muda dalam Gereja terjadi karena Kristus yang hidup terus berkarya dalam diri mereka,” ungkap beliau.

Dalam bagian lain homilinya, Uskup Datus secara khusus menyoroti peran strategis orang muda dalam dinamika Gereja, dengan mengacu pada Apostolic Exhortation Christus Vivit yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2019.
“Paus Fransiskus menegaskan bahwa Christus vivit – Kristus hidup. Dinamika, kreativitas, dan semangat orang muda dalam Gereja terjadi karena Kristus yang hidup terus berkarya dalam diri mereka,” ungkap beliau.

Ia juga menambahkan bahwa kebangkitan Kristus merupakan sumber kekuatan bagi kaum muda untuk menjadi saksi iman di mana pun mereka berada.

“Kristus tidak berhenti pada kematian dan penguburan. Ia bangkit, dan orang muda adalah saksi-saksi yang dipilih untuk membawa kabar kebangkitan itu ke mana pun dan kapan pun,” lanjutnya.

Dengan demikian, umat muda Katolik diharapkan tidak hanya hadir sebagai bagian dari komunitas, tetapi turut mengambil peran aktif dalam mendorong Gereja yang sinodal, partisipatif, dan berdaya.

Menghayati Peran Orang Muda dalam Dinamika Gereja Sinodal

TePas 2026 mengangkat tema utama: “Menghayati Peran Orang Muda Katolik dalam Dinamika Menggereja Sinodal”. Tema ini dipilih sebagai bagian dari arah pastoral keuskupan untuk memperkuat formasi dan pendampingan orang muda, sekaligus menyiapkan Gereja lokal menghadapi Indonesia Youth Day (IYD) 2027 yang akan diselenggarakan di Keuskupan Manokwari–Sorong.

Uskup Datus juga menuturkan bahwa pelayanan pastoral membutuhkan dedikasi sepenuh hati. “Christus vivit. Kristus hidup. Kita pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Kristus yang kita layani melalui sesama. Karena itu kita harus hidup dan mendedikasikan diri secara maksimal,” demikian pesan penutup beliau.

Melalui tema ini, para pastor, tim pastoral wilayah, dan para pendamping kaum muda diajak untuk semakin memahami bahwa Gereja sinodal dibangun melalui proses berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, serta membangun pelayanan yang kolaboratif dan transformatif.

Uskup Datus juga menuturkan bahwa pelayanan pastoral membutuhkan dedikasi sepenuh hati.

“Christus vivit. Kristus hidup. Kita pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Kristus yang kita layani melalui sesama. Karena itu kita harus hidup dan mendedikasikan diri secara maksimal,” demikian pesan penutup beliau.

Sambutan Panitia dan Penutup Acara

Ketua Panitia TePas 2026, Pater Iven Kocu, Pr dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan serta dalam menyukseskan penyelenggaraan Temu Pastores tahun ini. Ia menegaskan bahwa dukungan para pastor, tim wilayah pastoral, serta partisipasi kaum muda sangat membantu terlaksananya kegiatan dengan baik dan tertib.

Acara penutupan kemudian dilanjutkan dengan jamuan kasih dan rekreasi bersama, yang menjadi ruang perjumpaan informal antar para peserta untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.

Panitia berharap agar hasil refleksi, orientasi pastoral, dan komitmen yang dihasilkan dalam TePas 2026 menjadi kerangka acuan pastoral dalam perjalanan keuskupan ke depan, terutama dalam mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Indonesia Youth Day 2027.