Renungan Harian: Yang menajiskan bukanlah apa yang terlihat dari luar, tetapi apa yang mengalir dari dalam diri

94

Renungan Harian, 11 Februari 2026
Bacaan I: 1Raj 10:1-10
Bacaan Injil: Mrk 7:14-23

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali begitu cepat menilai orang lain hanya berdasarkan hal-hal yang tampak dari luar. Sebuah tindakan kecil yang tidak sesuai dengan adat, kebiasaan, atau standar yang kita anut, dengan mudah membuat kita memberikan cap atau stigma tertentu kepada seseorang. Bahkan dalam kehidupan rohani, kita kadang terjebak pada penilaian dangkal: cara seseorang berpakaian di gereja, cara ia berdoa, atau gaya hidup yang tampak tidak sesuai dengan apa yang kita anggap pantas. Kita sibuk mengamati hal-hal lahiriah, namun lupa melihat lebih dalam: hati seseorang.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus menegur keras cara pandang orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang mengukur kesucian seseorang berdasarkan adat istiadat. Mereka mudah menghakimi dan mencap najis siapa pun yang tidak mengikuti aturan turun-temurun yang mereka banggakan. Tetapi Yesus membongkar pola pikir itu. Ia berkata, “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya. Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Mrk 7:15).

Yesus mengarahkan perhatian kita pada akar persoalan: hati manusia. Yang menajiskan bukanlah apa yang terlihat dari luar, tetapi apa yang mengalir dari dalam diri. Ia menegaskan, “Dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Mrk 7:20-23).

Membersihkan hati bukanlah proses instan, tetapi sebuah perjalanan rohani yang terus-menerus. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menata batin, menyucikan motivasi, dan mengubah pola pikir kita. Ketika hati kita bersih dan dikuasai oleh Roh Allah, maka yang keluar dari diri kita pun akan menjadi kebaikan: kata-kata yang meneguhkan, tindakan yang membawa damai, dan sikap yang memberi kehidupan bagi sesama.

Semoga kita setiap hari semakin setia dalam proses pemurnian hati, sehingga diri kita dapat menjadi sumber energi positif bagi orang lain dan memancarkan cinta kasih Tuhan.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!