Renungan Harian, 10 Februari 2025
Pw. S. Skolastika, Perawan
Bacaan I: 1Raj 8:22-23.27-30
Bacaan Injil: Mrk 7:1-13
Orang yang memiliki hati bersih dan dikuasai oleh Roh Kudus pasti akan memancarkan keindahan hidup yang sejati. Dari dirinya mengalir kebijaksanaan, kelemah-lembutan, kejujuran, serta sukacita yang tidak dibuat-buat. Kehadirannya menjadi berkat bagi banyak orang karena ia tidak hidup dari kepura-puraan, tetapi dari ketulusan hati yang ditata oleh rahmat Allah.
Injil hari ini menegaskan kembali pentingnya hati yang bersih. Yesus mengecam orang-orang Farisi yang hanya sibuk mengatur hal-hal lahiriah tetapi mengabaikan kebersihan hati. Mereka menjalankan ibadah, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Yang mereka kejar bukanlah kerelaan untuk berubah, melainkan pembenaran diri melalui tradisi manusia yang dipertahankan secara kaku.
Teguran Yesus sangat keras: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mrk 7:6). Kata-kata ini bukan hanya ditujukan kepada orang Farisi, tetapi juga menjadi cermin bagi kita. Apakah ibadah kita sungguh mengalir dari hati? Apakah doa, devosi, misa, atau pelayanan kita benar-benar membaharui kehidupan kita? Ataukah semuanya hanya menjadi rutinitas demi menjaga penampilan rohani?
Ibadah yang hanya sebatas bibir tidak pernah membawa pertumbuhan. Namun ibadah yang keluar dari hati yang bersih akan menuntun kita kepada perjumpaan sejati dengan Allah. Dan hati yang bersih hanya mungkin bila kita terus mengizinkan Roh Kudus bekerja, membentuk batin kita dalam kerendahan hati, kejujuran, dan kasih yang tulus.
Pada peringatan Santa Skolastika, perawan suci yang hidup dalam doa dan kemurnian hati, kita diingatkan bahwa keindahan hidup kristiani berawal dari hati yang selaras dengan kehendak Allah. Seperti Skolastika, marilah kita berjuang untuk memiliki hati yang dipenuhi Roh – hati yang mampu memancarkan kasih Kristus ke mana pun kita pergi.
Tuhan memberkati dan Ave Maria!





