Renungan Harian: Kedengkian dan dendam tidak pernah menghasilkan kehidupan

64

Renungan Harian, 6 Februari 2026
PW. S. Paulus Miki dan Teman-temannya, Martir
Bacaan I: Sir 47:2-11
Bacaan Injil: Mrk 6:14-29

Dengki dan dendam adalah dua racun yang perlahan tetapi pasti mengerdilkan hati manusia. Keduanya bekerja seperti api kecil yang dibiarkan menyala dalam ruang tertutup—pelan-pelan menghabiskan udara, merusak suasana, dan pada akhirnya mematikan apa pun yang baik di dalamnya. Hati yang dipenuhi kedengkian tidak pernah damai; selalu resah, selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Hati yang dipenuhi dendam pun kehilangan kemampuan untuk melihat sesama sebagai saudara; ia hanya melihat musuh yang harus dibalas.

Injil hari ini menampilkan potret paling tragis dari hati yang dikuasai dendam: Herodes dan Herodias. Yohanes Pembaptis hanya mengatakan kebenaran; ia menegur Herodes karena mengambil Herodias, istri saudaranya. Namun kebenaran itu justru melukai kesombongan mereka dan menyalakan kedengkian yang membara. Herodias menyimpan dendam itu, menunggu waktu yang tepat, dan akhirnya membiarkan kejahatan itu mencapai puncaknya. Kepala Yohanes Pembaptis—seorang nabi, pewarta kebenaran, dan saksi setia Allah—dihadirkan di atas talam sebagai persembahan bagi hati yang telah gelap.

Kisah ini bukan sekadar sejarah kelam. Injil mengajak kita bercermin: apakah kita juga memelihara luka-luka kecil yang kita biarkan berkembang menjadi dendam? Apakah kita menyimpan kejengkelan di hati, menunggu kesempatan untuk membalas? Atau mungkin kita diam-diam menginginkan kejatuhan orang yang tidak kita sukai?

Kedengkian dan dendam tidak pernah menghasilkan kehidupan. Kedua dosa itu hanya melahirkan keputusan-keputusan buruk, kata-kata yang menyakitkan, dan tindakan yang merusak. Tetapi Allah menawarkan jalan lain: jalan kasih, pengampunan, dan kerendahan hati. Ketika kita membuka hati bagi kasih Allah, api dendam padam. Ketika kita membiarkan Roh Kudus bekerja, luka bisa dipulihkan. Dan ketika kita berani mengampuni, kita membebaskan diri dari belenggu yang selama ini mencengkeram kita.

Pada peringatan S. Paulus Miki dan teman-temannya—para martir yang wafat dengan hati penuh kasih dan pengampunan—kita diingatkan bahwa kemenangan sejati bukanlah membalas kejahatan, tetapi tetap setia pada kasih Kristus meski harus membayar dengan hidup.

Tuhan memberkati. Ave Maria!