Renungan Harian, 28 Januari 2025
PW. Santo Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan I: 2Sam 7:4-17
Bacaan Injil: Mrk 4:1-20
Dalam mematangkan hidup rohani, salah satu sikap dasar yang perlu terus ditumbuhkembangkan adalah kemampuan untuk mendengar. Mendengar bukanlah sekadar aktivitas fisik menggunakan indera pendengaran, melainkan sebuah sikap batin yang terbuka, rendah hati, dan siap dibentuk. Hidup rohani sejatinya adalah sebuah proses komunikasi yang terus-menerus dengan Allah, yang berbicara kepada kita melalui Sabda-Nya, peristiwa hidup, sesama, dan suara hati.
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk merefleksikan cara kita mendengarkan Sabda Allah melalui perumpamaan tentang penabur. Benih yang sama ditaburkan, namun hasilnya berbeda-beda, tergantung pada kondisi tanah tempat benih itu jatuh. Dengan perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa yang terutama bukanlah kualitas benih—karena Sabda Allah selalu baik dan penuh daya—melainkan kesiapan hati kita untuk menerimanya.
Yesus bersabda: “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:8)
Tanah yang baik melambangkan hati yang mau mendengar, memahami, dan melakukan Sabda Allah. Mendengar Sabda Allah secara benar berarti membiarkan Sabda itu meresap ke dalam hati, menantang cara berpikir kita, mengoreksi ego kita, dan mengubah arah hidup kita. Sabda Allah tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar didengar lalu dilupakan, apalagi dipakai sebagai pembenaran atas kepentingan dan ego pribadi.
Dalam terang peringatan Santo Thomas Aquinas, seorang pujangga Gereja yang menggabungkan iman dan akal budi secara harmonis, kita diingatkan bahwa mendengarkan Sabda Allah menuntut keterlibatan seluruh diri: akal, hati, dan kehendak. Iman yang matang lahir dari kesediaan untuk terus belajar, merenung, dan membiarkan kebenaran Allah membentuk hidup kita.
Karena itu, marilah kita mengasah kemampuan untuk mendengar dengan kedalaman hati. Kita berjuang untuk menyingkirkan sikap tertutup, prasangka, dan egoisme yang membuat Sabda Allah tidak berbuah. Kita mohon rahmat Roh Kudus agar menerangi jiwa kita, supaya kita mampu mendengar Sabda Allah secara benar, memahaminya dengan jujur, dan melaksanakannya dengan setia dalam hidup sehari-hari.
Semoga hidup kita menjadi tanah yang subur, tempat Sabda Allah bertumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama.
Selamat pagi, Tuhan memberkati. Ave Maria.





