RENUNGAN HARIAN: Setiap Orang Beriman Dipanggil untuk Menjadi Saksi Sabda yang Hidup

122

Renungan Harian, Minggu, 25 Januari 2025
Hari Minggu Biasa III – Hari Minggu Sabda Allah
Bacaan I: Yes 8:23b–9:3
Bacaan II: 1Kor 1:10–13.17
Bacaan Injil: Mat 4:12–23

Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa yang ketiga. Sejak tahun 2019, Paus Fransiskus melalui Surat Apostolik Motu Proprio Aperuit Illis menetapkan Minggu Biasa III sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Pada hari istimewa ini, Gereja mengajak kita untuk semakin mencintai, mendengarkan, merenungkan, dan mewartakan Sabda Tuhan yang hidup.

Sabda Allah bukan sekadar tulisan suci atau teks kuno, melainkan suara Allah sendiri yang terus berbicara kepada umat-Nya sepanjang zaman. Karena itu, Santo Hieronimus dengan tegas berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Kitab Suci adalah warisan iman yang menyingkapkan siapa Allah yang kita imani dan bagaimana Ia menyelamatkan manusia. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Sabda Tuhan selalu mewartakan kasih, keselamatan, dan persekutuan—bukan perpecahan.

Bacaan pertama dari Kitab Yesaya menggambarkan Sabda Allah sebagai terang besar yang menyinari mereka yang berjalan dalam kegelapan. Sabda Tuhan hadir membawa pengharapan, membebaskan dari belenggu penindasan, dan memulihkan hidup yang remuk. Di tengah dunia yang sering diliputi kegelapan—entah karena dosa, konflik, ketidakadilan, atau perpecahan—Sabda Allah tetap menjadi cahaya yang menuntun langkah manusia.

Namun, Sabda yang menyatukan itu sering kali justru diabaikan. Dalam bacaan kedua, Santo Paulus menegur jemaat di Korintus karena perpecahan yang muncul akibat kepentingan pribadi dan kelompok. Sabda Allah seharusnya mempersatukan, bukan memecah-belah. Iman yang berakar pada Sabda Kristus tidak membawa umat pada persaingan atau egoisme rohani, melainkan pada kesatuan dan kasih.

Puncaknya, dalam bacaan Injil, kita melihat Yesus sendiri sebagai Sabda yang menjadi manusia. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan memanggil para murid dengan undangan yang sederhana namun radikal: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Panggilan ini tidak hanya ditujukan kepada para murid pertama, tetapi juga kepada kita semua. Mendengarkan Sabda Tuhan selalu berujung pada perutusan. Sabda yang kita terima harus dihidupi dan diwartakan melalui kata dan perbuatan.

Hari Minggu Sabda Allah mengingatkan kita bahwa setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi saksi Sabda yang hidup. Bukan hanya rajin membaca Kitab Suci, tetapi membiarkan Sabda itu membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Sabda Tuhan adalah roh dan hidup; ia menuntun kita untuk keluar dari kegelapan menuju terang Kristus.

Semoga perayaan Hari Minggu Sabda Allah ini sungguh menggugah hati kita untuk semakin mencintai Kitab Suci, tekun merenungkannya, dan setia mewartakannya dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita sendiri menjadi “Injil yang terbuka” bagi sesama.

Tuhan memberkati. Ave Maria.