Renungan Harian: Bertekun Dalam Kebaikan, Apa Pun Risikonya

99

Renungan Harian, 24 Januari 2026
PW. St. Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan I: 2Sam 1:1-4.11-12.19.23-27
Bacaan Injil: Mrk
3:20-21

Kadang hati kita terasa terusik ketika menyaksikan ketidakadilan di sekitar kita. Ada orang yang bekerja dengan tulus dan menghasilkan buah-buah kebaikan, namun justru tidak mendapat apresiasi, bahkan dipandang buruk. Ada pula mereka yang dengan sepenuh hati memperjuangkan kebaikan bersama, tetapi demi kepentingan tertentu, malah dikucilkan dan disingkirkan.

Pengalaman ini menyadarkan kita bahwa kebaikan tidak selalu berbuah pujian. Tidak jarang, kebaikan justru memicu perbantahan, kecurigaan, kecemburuan, bahkan fitnah. Lalu pertanyaannya: apakah dalam situasi seperti itu kita harus berhenti berbuat baik?

Injil hari ini memberi kita jawaban yang sangat jelas melalui pribadi Yesus sendiri. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan-Nya tidak selalu disambut dengan sukacita. Sebaliknya, kebaikan itu memunculkan kecurigaan dan kecemburuan, terutama dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bahkan, yang lebih menyakitkan, keluarga dekat Yesus pun tidak memahami karya-Nya. Mereka menganggap Yesus “tidak waras” dan hendak mengambil Dia (bdk. Mrk 3:21).

Yesus sungguh mengalami penolakan, kesalahpahaman, dan penilaian negatif—bahkan dari orang-orang terdekat-Nya. Namun, semua itu tidak mematahkan semangat-Nya. Ia tidak mundur, tidak tawar hati, dan tidak menghentikan karya keselamatan. Justru di tengah penolakan itulah Yesus semakin setia mewartakan kasih dan kebaikan Allah bagi manusia.

Bacaan pertama dari Kitab Samuel pun menggemakan sikap hati yang luhur. Daud meratapi kematian Saul dan Yonatan, orang-orang yang pernah menyakitinya. Tidak ada dendam, tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanyalah kesedihan dan penghormatan. Inilah wajah kebaikan sejati: kebaikan yang tidak dikendalikan oleh luka, kebencian, atau balas dendam.

Renungan hari ini mengajak kita untuk bertekun dalam kebaikan, apa pun risikonya. Jangan berkecil hati ketika kebaikan kita tidak diapresiasi. Jangan mundur ketika niat baik justru dibalas dengan fitnah dan percideraan. Sebab kebaikan tidak pernah padam oleh kejahatan. Kebaikan tidak pernah pudar oleh penilaian negatif yang sarat kepentingan.

Teruslah berbuat baik, bukan demi pujian manusia, melainkan demi kesetiaan kepada Tuhan. Pada waktunya, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan memeteraikan setiap benih kebaikan yang kita tabur.

Tuhan memberkati. Ave Maria.