Renungan Harian: Iri Hati – Racun yang Membunuh Belas Kasih

36

Renungan Harian, Kamis, 22 Januari 2026
Bacaan I: 1Sam 18:6–9; 19:1–7
Bacaan Injil: Mrk 3:7–12

Iri Hati: Racun yang Membunuh Belas Kasih
Iri hati merupakan salah satu akar dosa yang paling halus, namun sekaligus paling berbahaya. Ia bekerja pelan-pelan, nyaris tanpa disadari, tetapi dampaknya sangat merusak. Ketika seseorang dikuasai oleh iri hati, hatinya mulai menutup diri terhadap belas kasih. Ia terjebak dalam egoisme yang memprihatinkan dan kehilangan kemampuan untuk bersukacita atas kebaikan serta keberhasilan orang lain.

Orang yang iri akan mudah dihantui oleh rasa takut tersaingi. Setiap keberhasilan sesama dipandang sebagai ancaman. Ia sulit mengakui kelebihan orang lain dan perlahan-lahan mulai membangun sikap defensif. Dari sinilah lahir niat-niat gelap: memasang jebakan, menjatuhkan reputasi, melakukan pembunuhan karakter, bahkan tidak jarang berujung pada keinginan untuk menghancurkan hidup orang lain.

Hal inilah yang kita saksikan dalam bacaan pertama hari ini. Saul, raja Israel, jatuh dalam jerat iri hati ketika mendengar nyanyian rakyat sepulang dari medan perang: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (1Sam 18:7)

Kalimat sederhana itu melukai harga diri Saul. Ia merasa tersaingi, tersinggung, dan terancam. Sejak saat itu, Saul memandang Daud dengan kecurigaan. Ia sadar bahwa wibawa dan popularitas Daud semakin besar, dan bukannya bersyukur atau bersukacita, Saul justru membiarkan iri hati menguasai dirinya. Akibatnya fatal: ia merencanakan pembunuhan terhadap Daud, orang yang sesungguhnya diurapi Tuhan dan setia melayani dia.

Kisah ini menjadi peringatan serius bagi kita semua, terutama ketika kita berada dalam jabatan, tanggung jawab, atau posisi tertentu. Semakin tinggi jabatan dan semakin besar kekuasaan, semakin besar pula godaan untuk mempertahankannya dengan cara-cara yang tidak bermartabat. Iri hati membuat seseorang menjadi egois, keras, bahkan brutal. Ia mudah mencurigai, sulit mempercayai, dan cepat melihat orang lain sebagai musuh.

Dalam Injil hari ini, Yesus justru menunjukkan sikap yang berlawanan. Banyak orang datang kepada-Nya: orang sakit, orang kerasukan roh jahat, orang kecil dan tersingkir. Yesus tidak merasa tersaingi, tidak mencari popularitas, dan tidak membangun kuasa untuk diri-Nya sendiri. Ia hadir dengan belas kasih, menyembuhkan, dan memulihkan martabat manusia. Kuasa-Nya tidak menghancurkan, tetapi menyembuhkan dan membebaskan.

Renungan hari ini mengajak kita untuk bercermin: apakah hati kita masih dipenuhi iri hati? Apakah kita sulit bersukacita ketika melihat orang lain berhasil? Apakah kita lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memelihara kasih?

Marilah kita waspada terhadap iri hati, karena ia merusak relasi dengan Tuhan dan sesama. Mohonlah rahmat hati yang lapang, hati yang mampu bersyukur, dan hati yang penuh kasih. Biarlah kita belajar untuk bersukacita atas kebaikan orang lain, sebab di situlah iman kita dimurnikan.

Semoga Tuhan memurnikan hati kita dan membebaskan kita dari racun iri hati. Tuhan memberkati. Ave Maria.