SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Materi pertama dalam rangkaian Temu Pastores (TePas) Keuskupan Manokwari–Sorong menjadi ruang refleksi mendalam tentang peran Orang Muda Katolik (OMK) dalam kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia. Materi ini dibawakan oleh Mgr. Maksimus Regus, Uskup Labuan Bajo sekaligus Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), pada Selasa, 21 Januari 2026, di Sorong, dalam kegiatan TePas yang berlangsung 20–23 Januari 2026.

Mengangkat tema “Iman yang Bergerak dan Kepedulian yang Membebaskan: Orang Muda Katolik Indonesia dalam Horizon Indonesian Youth Day 2027”, Mgr. Maksimus menegaskan bahwa orang muda bukan sekadar penerima pelayanan pastoral, melainkan subjek perutusan Gereja yang hidup di tengah dinamika dan tantangan zaman.
Orang Muda sebagai Locus Teologis Zaman Ini
Dalam pengantar materinya, Mgr. Maksimus menekankan bahwa Gereja tidak pernah hidup di luar dunia, melainkan berjalan di dalam sejarah manusia. Mengutip semangat Konsili Vatikan II, khususnya Gaudium et Spes, ia mengingatkan bahwa sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia—terutama mereka yang miskin dan menderita—adalah juga milik para murid Kristus.

Dalam konteks Indonesia masa kini, orang muda hidup di tengah disrupsi digital, ketimpangan sosial, krisis ekologis, serta fragmentasi relasi dan identitas. Situasi ini, menurut Mgr. Maksimus, menuntut Gereja untuk tidak berhenti pada program-program seremonial, tetapi membangun proses pendampingan iman yang berakar pada realitas hidup orang muda.
“Indonesian Youth Day (IYD) 2027 yang akan dilaksanakan di Keuskupan Manokwari–Sorong, Papua, perlu dibaca bukan hanya sebagai sebuah peristiwa besar, tetapi sebagai momentum kairos, saat rahmat yang mengundang pembaruan iman, kepedulian, dan perutusan,” tegasnya.
Iman yang Bergerak: Dari Spiritualitas ke Keberpihakan Nyata
Mgr. Maksimus menegaskan bahwa iman Kristiani pada hakikatnya bersifat dinamis dan berpihak. Ia mengajak para pastores untuk kembali pada teladan Yesus yang menghadirkan iman yang bergerak melalui pewartaan dan tindakan konkret, sebagaimana dinyatakan dalam Injil Lukas (Luk. 4:18).

Iman Injili, lanjutnya, tidak pernah netral, tetapi selalu berpihak pada kehidupan, martabat manusia, dan keadilan. Karena itu, iman yang sejati selalu memiliki dimensi sosial dan profetis. Mengutip Santo Yohanes Krisostomus, ia mengingatkan bahwa penghormatan kepada Kristus di altar tidak dapat dipisahkan dari kepedulian kepada Kristus yang hadir dalam diri orang miskin dan menderita.
Dalam terang ajaran Paus Fransiskus, khususnya Evangelii Gaudium, Mgr. Maksimus memperingatkan bahaya iman yang nyaman dan tertutup, yang disebut sebagai “sofa Christianity”—iman yang mencari ketenangan pribadi, tetapi kehilangan daya transformasinya. Bagi OMK, iman yang bergerak berarti keberanian keluar dari zona nyaman menuju keterlibatan nyata dalam realitas sosial, budaya, dan ekologis.
Kepedulian sebagai Bahasa Iman Orang Muda
Di tengah dunia yang jenuh oleh wacana moral dan retorika keagamaan, kepedulian, menurut Mgr. Maksimus, menjadi bahasa iman yang paling dapat dipercaya. Ia merujuk pada perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Luk. 10:25–37) sebagai gambaran kasih yang melampaui batas identitas, kelompok, dan kepentingan sempit.
Mengacu pada ensiklik Deus Caritas Est Paus Benediktus XVI, ia menegaskan bahwa kasih bukan sekadar salah satu program pastoral Gereja, melainkan jantung keberadaannya. Kepedulian kristiani tidak boleh direduksi menjadi tindakan karitatif yang insidental, tetapi harus menjelma sebagai solidaritas yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Dalam perspektif teolog Johann Baptist Metz, kepedulian ini berakar pada memoria passionis, yakni ingatan iman akan penderitaan sesama yang tidak boleh diredam oleh kenyamanan religius atau rutinitas liturgis. Kepedulian menjaga iman agar tetap terhubung dengan realitas penderitaan manusia dan mencegahnya menjadi kesalehan yang steril.
Orang Muda di Tengah Fragmentasi Dunia
Mgr. Maksimus juga menyoroti kondisi orang muda yang hidup dalam dunia yang ditandai oleh ketidakpastian dan perubahan cepat, sebagaimana digambarkan oleh Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity. Budaya digital, tekanan performatif media sosial, serta kecemasan akan masa depan kerap melahirkan kebingungan identitas dan kelelahan eksistensial.
Dalam situasi ini, Gereja dipanggil untuk hadir bukan dengan sikap menghakimi, melainkan sebagai ruang peneguhan dan orientasi hidup. Mengutip Christus Vivit, ia menegaskan bahwa Gereja harus menjadi rumah dengan pintu terbuka, tempat orang muda datang dengan seluruh pertanyaan, luka, dan harapannya.

Iman, tegasnya, membantu orang muda mengintegrasikan berbagai dimensi hidup, sehingga tidak terpecah antara yang sakral dan yang profan. Proses integrasi iman dan kehidupan menjadi kunci pembentukan identitas OMK yang utuh dan bertanggung jawab.
Papua sebagai Tanda Zaman: Ekologi dan Hospitalitas
Pemilihan Papua sebagai tuan rumah Indonesian Youth Day 2027 memiliki makna simbolik dan teologis yang mendalam. Papua, menurut Mgr. Maksimus, bukan hanya lokasi geografis, tetapi tanda zaman yang berbicara tentang relasi manusia dengan alam, martabat yang terpinggirkan, dan luka sejarah yang menanti penyembuhan.
Mengacu pada Laudato Si’, ia menegaskan bahwa krisis ekologis adalah krisis relasi—dengan Allah, sesama, dan alam ciptaan. Papua dengan kekayaan alam dan tantangan ekologisnya menjadi ruang pembelajaran nyata tentang ekologi integral dan tanggung jawab bersama merawat rumah bersama.
Dalam konteks ini, nilai hospitalitas Gereja menjadi kunci. Indonesian Youth Day 2027 diharapkan menjadi pengalaman perjumpaan yang menyembuhkan, di mana orang muda dari berbagai latar belakang saling belajar, mendengarkan, dan merawat kehidupan bersama.
Dari Komunitas Menuju Perutusan
Mengakhiri materinya, Mgr. Maksimus menegaskan bahwa orang muda bukan hanya masa depan Gereja, melainkan “masa kini Allah”. Karena itu, OMK harus dipandang sebagai subjek perutusan yang aktif, terlibat dalam proses discernment, pengambilan keputusan, dan pewartaan iman yang kreatif.
Indonesian Youth Day 2027, lanjutnya, perlu dipahami sebagai titik tolak perutusan jangka panjang, bukan sekadar perayaan seremonial. Dari komunitas, orang muda diutus untuk terlibat dalam transformasi sosial, pembangunan perdamaian, dan perawatan ciptaan.
“IYD 2027 adalah momentum pertobatan pastoral, ajakan bagi Gereja untuk sungguh mendengarkan orang muda, belajar dari pinggiran, dan berjalan bersama dalam semangat sinodal,” tegasnya.
Dengan iman yang bergerak, kepedulian yang membebaskan, dan keberanian orang muda untuk terlibat, Gereja Indonesia diharapkan mampu menulis masa depannya dengan rendah hati, kreatif, dan setia pada perutusan Kristus di tengah dunia yang terus berubah.
P. Fransiskus Katino, Pr – Komsoskms





