Renungan Harian, 18 Januari 2025
Minggu Biasa II
Bacaan I: Yes 49:3.5-7
Bacaan II: 1Kor 1:1-3
Bacaan Injil: Yoh 1:29-34
Setiap pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi saksi. Kesaksian itu tidak selalu harus disampaikan lewat kata-kata indah atau khotbah yang panjang, tetapi justru sering terungkap lewat sikap hidup, cara bertindak, dan kesetiaan menjalani panggilan sehari-hari. Hidup seorang murid Kristus, bila dijalani dengan tulus dan benar, sesungguhnya sudah menjadi pewartaan yang kuat tentang kasih Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis tampil sebagai saksi sejati. Ia tidak menunjuk pada dirinya sendiri, melainkan dengan rendah hati mengarahkan pandangan orang kepada Yesus. Dengan tegas ia berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Yohanes memberi kesaksian bukan berdasarkan dugaan atau cerita orang lain, tetapi dari pengalaman iman yang mendalam: ia telah melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus dan tinggal di atas-Nya. Karena itu, kesaksiannya lahir dari perjumpaan pribadi dengan Allah.
Kesaksian Yohanes memiliki tujuan yang jelas: supaya orang lain mengenal Yesus, percaya kepada-Nya, dan berani mengikuti-Nya. Ia tidak mencari popularitas, tidak mempertahankan pengaruh, tetapi rela “mundur” agar Kristus semakin dikenal. Inilah ciri utama seorang saksi Kristus sejati: hidupnya menjadi jembatan yang menuntun orang kepada Tuhan, bukan kepada dirinya sendiri.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menegaskan bahwa hamba Tuhan dipanggil bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Sementara itu, Santo Paulus dalam suratnya mengingatkan bahwa panggilan sebagai umat Allah selalu disertai rahmat dan damai sejahtera. Artinya, tugas perutusan kita selalu disertai kekuatan dari Tuhan sendiri.
Pertanyaannya bagi kita hari ini: sudahkah kita sungguh menjadi saksi Kristus dalam hidup sehari-hari? Apakah kata-kata kita membawa berkat atau justru melukai? Apakah sikap hidup kita memancarkan kasih, kejujuran, dan kerendahan hati? Dunia saat ini lebih membutuhkan kesaksian hidup daripada sekadar nasihat. Orang akan lebih mudah percaya kepada Injil ketika melihat Injil itu sungguh hidup dalam diri kita.
Marilah kita membarui komitmen perutusan kita. Biarlah perkataan kita menjadi pantulan Sabda Kristus. Biarlah tindakan dan pilihan hidup kita menjadi gambaran kasih Allah yang nyata. Semoga melalui kehadiran kita—di keluarga, di lingkungan kerja, di masyarakat—orang lain dapat merasakan kehadiran Kristus yang menguatkan dan menyelamatkan.
Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati. Ave Maria.





