Renungan Harian: Kita Adalah Orang Berdosa yang Disapa oleh Tuhan

4

Renungan Harian, 17 Januari 2026**
Pw. Santo Antonius, Abas
Bacaan I: 1Sam 9:1-4.17-19; 10:1a
Bacaan Injil: Mrk 2:13-17

Kadang, ketika membaca tulisan-tulisan atau menonton video-video yang bernada intoleran, hati terasa pedih dan prihatin. Ada orang-orang yang dengan mudah menganggap diri dan kelompoknya paling benar, lalu menjustifikasi sesama sebagai salah, buruk, bahkan tidak layak. Seolah-olah hidupnya sendiri sudah sepenuhnya suci dan benar di hadapan Allah.
Namun, benarkah demikian? Pengalaman hidup mengajarkan bahwa orang yang gemar menghakimi sesama tidak selalu lebih baik dari mereka yang dihakiminya. Bahkan, seburuk-buruknya seseorang, selalu ada setitik kebaikan yang Tuhan tanamkan dalam dirinya—kebaikan yang patut dirawat demi keselamatan hidupnya. Allah tidak pernah berhenti melihat potensi kebaikan itu.

Injil hari ini menampilkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Yesus menyapa Lewi, seorang pemungut cukai yang dicap sebagai pendosa dan pengkhianat oleh masyarakat. Yang mengejutkan, Yesus tidak hanya menyapanya, tetapi juga mengajaknya mengikuti Dia. Lebih dari itu, Yesus duduk makan bersama Lewi dan orang-orang berdosa lainnya. Tindakan ini menimbulkan kegelisahan dan protes dari kaum Farisi dan ahli Taurat: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16).

Bagi mereka yang merasa diri paling suci dan benar, kedekatan Yesus dengan orang berdosa adalah sebuah skandal. Namun, hati Yesus digerakkan oleh kasih, bukan oleh penghakiman. Dengan jelas Ia berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2:17).

Inilah inti misi Yesus: misi keselamatan. Ia tidak menyingkirkan orang berdosa, tidak menjaga jarak, apalagi mengucilkan. Justru Ia mendekat, merangkul, membebaskan, dan memberi mereka hidup yang baru. Kasih Allah selalu mendahului pertobatan manusia.

Bacaan pertama juga menegaskan hal yang sama. Allah memilih Saul—bukan karena kesempurnaannya, melainkan karena kehendak dan rencana-Nya. Allah bekerja melalui manusia yang rapuh untuk mewujudkan keselamatan bagi banyak orang.

Dalam terang peringatan Santo Antonius Abas, kita diingatkan bahwa kekudusan sejati lahir dari kerendahan hati dan pertobatan terus-menerus, bukan dari sikap merasa diri paling benar. Santo Antonius memilih hidup sederhana dan menjauh dari kesombongan rohani agar hatinya sungguh terbuka bagi Allah dan sesama.

Renungan hari ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kita semua adalah orang berdosa yang disapa oleh Tuhan. Kita hidup karena belas kasih-Nya, diangkat dalam pelukan kasih-Nya, dan terus diperbarui oleh rahmat-Nya. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap intoleran dan merasa lebih suci dari orang lain.

Semoga kita berani meneladan Lewi: bertobat, bangkit, dan mengikuti Yesus dengan setia. Dan semoga kita juga belajar membuka hati bagi siapa pun, menyapa mereka sebagai saudara, serta menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia yang mudah menghakimi.

Tuhan memberkati. Ave Maria.