Renungan Harian, 16 Januari 2026
Bacaan I: 1Sam 8:4–7.10–22a
Bacaan Injil: Mrk 2:1–12
Apakah ada orang yang tidak pernah menderita? Rasanya hampir mustahil. Setiap orang, sekecil apa pun, pasti pernah mengalami penderitaan dalam hidupnya. Penderitaan sering kali terasa begitu dekat dengan keseharian kita. Bahkan ada orang yang merasa seolah penderitaan telah menyatu dengan jalan hidupnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan mendasar: Apakah Tuhan menciptakan penderitaan bagi manusia?
Iman Kristiani mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan penderitaan. Sejak awal penciptaan, manusia diciptakan dalam kebahagiaan, keutuhan, dan sukacita. Penderitaan bukanlah titipan Tuhan bagi ciptaan-Nya. Namun, karena dosa dan kesombongan manusia, kebahagiaan itu rusak dan hilang. Penderitaan hadir sebagai dampak dari dosa, bukan sebagai kehendak Allah.
Derita merupakan konsekuensi dari keterpisahan manusia dengan Allah. Di sanalah kuasa dosa dan karya Iblis merusak hidup manusia. Karena itu, setiap kali Yesus menyembuhkan orang sakit, Dia tidak hanya memulihkan tubuh, tetapi terlebih dahulu membebaskan manusia dari belenggu dosa. Penyembuhan selalu dimulai dari pemulihan relasi dengan Allah.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar kisah tentang seorang lumpuh yang dibawa kepada Yesus oleh teman-temannya. Karena orang begitu banyak, mereka bahkan menurunkannya dari atap rumah. Melihat iman mereka, Yesus berkata: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5).
Yesus menyingkapkan kebenaran penting: pengampunan dosa adalah dasar dari pemulihan sejati. Iman yang penuh kepercayaan membuka jalan bagi karya Allah. Setelah mengampuni dosanya, Yesus berkata: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11).
Pengampunan dosa membawa pembebasan rohani, dan pembebasan rohani menghadirkan pemulihan jasmani. Kuasa penyembuhan mengalir dari kesatuan dengan Allah. Hanya dalam persatuan dengan-Nya, manusia memperoleh pengampunan, pemulihan, dan kebebasan dari segala belenggu dosa dan penderitaan.
Renungan ini juga mengajak kita belajar dari iman para sahabat orang lumpuh itu. Mereka tidak menyerah. Mereka saling menolong dan bersama-sama membawa sesamanya kepada Yesus. Iman yang sejati tidak pernah egois, tetapi selalu peduli dan rela berjuang demi keselamatan sesama.
Maka, marilah kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dalam kesatuan yang semakin intim dengan-Nya. Dengan rendah hati, kita mohon agar Dia membebaskan kita dari penderitaan akibat dosa. Dan seperti para sahabat dalam Injil, marilah kita juga saling membantu, saling menopang, dan menjadi jalan pembebasan bagi sesama yang sedang menderita.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





