Renungan Harian: Dengan Tulus Mengolah Kerendahan Hati

131

Renungan Harian, 02 Januari 2026
PW Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan I: 1Yoh 2:22–28
Bacaan Injil: Yoh 1:19–28

Semakin seseorang sungguh beriman kepada Allah, semakin ia belajar untuk merendahkan diri. Iman yang sejati tidak melahirkan kesombongan rohani, tetapi justru menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Allah dan keterbatasan diri manusia. Hidup orang beriman perlahan diarahkan bukan untuk memuliakan diri, melainkan untuk memuliakan Allah. Ia semakin merasa kecil di hadapan Tuhan, dan pada saat yang sama memandang Allah semakin besar dan agung.

Sosok Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini adalah gambaran nyata dari iman yang rendah hati. Ketika orang-orang Yahudi bertanya apakah ia Mesias, Elia, atau nabi yang dinanti-nantikan, Yohanes dengan tegas menolak semua gelar itu. Ia tidak tergoda untuk menikmati pujian, popularitas, atau kekaguman orang banyak. Dengan rendah hati ia berkata, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!” (Yoh 1:23).

Yohanes tahu siapa dirinya dan tahu pula siapa Tuhan. Ia tidak menempatkan diri sebagai pusat perhatian, melainkan mengarahkan pandangan semua orang kepada Dia yang akan datang. Bahkan dengan kerendahan hati yang mendalam ia bersaksi, “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Yohanes menyadari bahwa seluruh hidup dan pelayanannya hanyalah sarana agar orang lain mengenal Kristus.

Pesan ini selaras dengan peringatan Rasul Yohanes dalam bacaan pertama. Ia mengajak umat untuk tetap tinggal di dalam Kristus, setia pada kebenaran, dan tidak terjebak pada roh dusta yang memuliakan diri sendiri. Tinggal di dalam Kristus berarti hidup dalam kejujuran iman, kesetiaan, dan kerendahan hati, sampai Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya pada waktunya.

Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze, yang kita peringati hari ini, juga menunjukkan bahwa kebesaran Gereja tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari kerendahan hati, kedalaman iman, dan kecintaan pada kebenaran. Mereka menjadi pujangga Gereja bukan karena mencari nama, tetapi karena setia membiarkan Allah berkarya melalui hidup mereka.

Renungan hari ini mengajak kita untuk dengan tulus mengolah kerendahan hati. Mari belajar menempatkan diri di hadapan Allah apa adanya, tidak meninggikan diri, tidak mencari pujian, tetapi setia menjadi “suara” yang menunjuk kepada Tuhan dalam kata dan perbuatan. Sebab, siapa yang merendahkan diri di hadapan Allah, akan dimuliakan oleh-Nya pada waktu-Nya.

 Tuhan memberkati. Ave Maria.