Renungan Harian, 28 Desember 2025
Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, dan Yusuf
Bacaan I: Sirakh 3:2–6.12–14
Mazmur Tanggapan: Mazmur 128:1–2.3.4–5
Bacaan II: Kolose 3:12–21
Bacaan Injil: Lukas 2:13–15.19–23
Setiap orang tentu mendambakan sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga yang dibangun atas dasar kesetiaan, cinta, dan sukacita. Keluarga yang berkecukupan secara lahiriah, namun juga kaya secara rohani. Keluarga yang setia berdoa, saling menguatkan, dan menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya ke dalam tangan Allah.
Namun, realitas kehidupan keluarga Kristiani dewasa ini sering kali tidak seindah harapan. Tidak sedikit keluarga yang terjebak pada hal-hal lahiriah dan berorientasi semata-mata pada urusan duniawi. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, dan godaan zaman perlahan menggerus kehidupan rohani keluarga. Doa bersama mulai ditinggalkan. Pendidikan iman anak-anak kurang mendapat perhatian. Keteladanan hidup dari orang tua pun semakin memudar. Akibatnya, banyak keluarga Kristiani rapuh, bahkan mengalami kehancuran.
Dalam konteks inilah, Pesta Keluarga Kudus menjadi panggilan yang sangat relevan bagi kita semua. Gereja mengajak kita menimba inspirasi dari Keluarga Kudus di Nazaret: Yesus, Maria, dan Yusuf. Mereka bukan keluarga yang sempurna menurut ukuran dunia. Mereka hidup sederhana, penuh keterbatasan, bahkan tidak luput dari penderitaan dan kecemasan. Namun satu hal yang menjadi dasar hidup mereka adalah: Allah selalu menjadi pusat kehidupan keluarga.
Yesus, Maria, dan Yusuf bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yusuf setia menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Maria mendampingi pertumbuhan Yesus dengan penuh kasih dan kesetiaan. Yesus sendiri bertumbuh dalam kebijaksanaan, ketaatan, dan kasih. Di tengah segala kesibukan dan perjuangan hidup, mereka tidak pernah melepaskan tanggung jawab untuk saling mendampingi dan menyerahkan segala pergumulan kepada Allah.
Bacaan pertama dari Kitab Sirakh menegaskan pentingnya relasi yang penuh hormat dan kasih dalam keluarga, khususnya antara anak dan orang tua. Menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban moral, melainkan jalan berkat yang mendatangkan kehidupan. Mazmur 128 melukiskan keluarga yang takut akan Tuhan sebagai keluarga yang diberkati, subur, dan penuh damai. Sementara itu, Santo Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Kolose mengingatkan agar setiap anggota keluarga hidup dalam kasih, kesabaran, pengampunan, dan ketaatan kepada Tuhan.
Pesta Keluarga Kudus hari ini mengajak kita untuk bercermin dan bertanya: sudahkah keluarga kita sungguh dibangun di atas dasar iman? Apakah doa masih menjadi nafas kehidupan keluarga? Apakah kasih, kesetiaan, dan pengorbanan masih dihidupi dengan tulus
Karena itu, marilah kita memperbaharui komitmen untuk membangun keluarga Kristiani yang kudus. Suami dan istri diajak untuk memperbaharui janji kesetiaan dalam perkawinan, saling mengasihi dalam suka dan duka. Orang tua dipanggil untuk terus berjuang demi kesejahteraan keluarga, sekaligus setia mendidik anak-anak dalam iman dan memberi teladan hidup yang baik. Anak-anak pun diajak untuk semakin menghormati, menghargai, dan mendoakan orang tua mereka.
Semoga Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan dan pelindung bagi setiap keluarga Kristiani. Semoga keluarga-keluarga kita menjadi tempat bertumbuhnya iman, kasih, dan pengharapan, serta menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.
Selamat Pesta Keluarga Kudus. Tuhan memberkati kita semua. Ave Maria





