JAKARTA, KOMSOSKMS.ORG – Pengurus Komisi Kepemudaan Keuskupan Manokwari-Sorong telah mengutus dua OMK dari Keuskupan Manokwari-Sorong dalam mengikuti “Temu Missionaris Digital dan Influencer Katolik Indonesia” di Gedung KWI-Jakarta Pusat (22-23 November 2025). Dua OMK tersebut, yaitu Nicodemus Lolonlun (OMK Paroki St. Paroki Arnoldus Janssen Malanu-Sorong) dan Silas Yunior Saa (OMK Paroki Imanuel Sanggeng).

Kegiatan Temu Missionaris Digital dan Influencer Katolik Indonesia ini diselenggarakan oleh Komkep-KWI dan Komsos-KWI bersama YOUCAT (Youth Catechism of the Catholic = ‘Katekismus Remaja Gereja Katolik’) Indonesia. Melalui tema “From Followers to Witnesess”, Niko dan Silas mendapatkan banyak manfaat, baik pengalaman, perjumpaan, dan pengetahuan, serta iman yang makin teguh untuk berkecimpung dalam membangun misi baru di ladang digital. Selain Niko dan Silas, terdapat pula rekan-rekan lainnya yang berjumlah 76 orang yang berasal dari berbagai keuskupan di Indonesia. Mereka semua boleh berkumpul bersama untuk dibekali, diperlengkapi, dan diteguhkan dalam perutusannya sebagai Misionaris Digital Katolik (Midizen).

Dalam semangat membangun ladang misi baru di dunia digital, hari pertama dibuka dengan sesi formasi oleh RD. Dimas Danang, yang mengajak para peserta kembali menempatkan Kristus sebagai pusat pewartaan digital, bukan popularitas atau angka pengikut (followers) dalam dunia digital. Suasana terasa seru dan hangat ketika para Midizen berbagi pengalaman pelayanan mereka: rasa syukur, sukacita, kecemasan, hingga pergumulan pribadi, namun semuanya bermuara pada satu hal, yakni kesadaran bahwa mereka tidak berjalan sendiri dan memiliki keluarga baru dalam misi digital gereja.
Pada sore harinya, seluruh peserta berangkat menuju KAJ Fair untuk merayakan Hari Orang Muda Sedunia (HOMS) ke-40. Di sana, mereka mengikuti prosesi perkenalan Salib World Youth Day (WYD) yang sedang singgah di Indonesia sebagai tanda kesatuan Gereja universal. Rangkaian hari pertama ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Samuel Pangestu di Sekolah Santa Ursula Jakarta.
Hari kedua, peserta Midizen diperkaya dengan sesi inspiratif dari Sisca Saras, Suster M. Rita, AK, dan Evelyn Hutani. Para narasumber menegaskan pentingnya identitas pewarta digital yang setia pada ajaran Gereja, menghadirkan konten yang aman dan penuh kasih, sekaligus peka terhadap isu-isu yang dekat dengan orang muda seperti perundungan dan kesehatan mental. Para Midizen juga menyoroti kebutuhan pendamping rohani, jejaring komunitas yang berkelanjutan, ruang kolaborasi, serta direktori resmi influencer Katolik untuk menjaga kredibilitas pelayanan digital. Walaupun kegiatan ini hanya berlangsung selama dua hari (22-23/11), namun Niko dan Silas sungguh merasa berkesan karena diperkaya dengan aneka materi, sharing, dinamika dalam perjumpaan, kekeluargaan, hingga terjalin persaudaraan dalam iman yang satu dan sama akan Kristus Yesus, Tuhan kita. “Melalui pengalaman-pengalaman ini, kami sangat merasakan manfaat luar biasa setelah mengikuti kegiatan ini,” ujar Niko.
Pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi bagi Gereja, antara lain penyusunan pedoman pastoral komunikasi digital, serta keterlibatan para influencer dalam program Gereja nasional seperti Indonesian Youth Day (IYD) dan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI).***
Sumber: IG Komsos Paroki Singkawang-Kalbar
Editor: Ketua Komkep-KMS





