REMI MENJADI JERRY Biarlah Rohmu Menyala-nyala dan Layanilah Tuhan

36

Oleh Jerry Rumlus

Tradisi Alkitabiah mencatat beberapa perubahan nama yang menggambarkan campu tangan Allah dalam kisah seorang anak manusia. Misalnya, Abram menjadi Abraham (Kej 17:5); Yakob menjadi Israel (Kej. 32:28); Simon menjadi Kefas, artinya: Petrus (Yoh 1:42; Mrk 3:16; Luk 6:14)); Saulus menjadi Paulus (Kis. 9:1-19; 13:9).  Demikianlah “Remi menjadi Jerry” untuk menggambarkan campur tangan Allah di dalam kisah perjalanan hidupku.

“Biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Rom 12:11) adalah motto tahbisan imamat saya. Sebelum ditahbiskan, di batinku ada pergumulan hebat selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan tahun. Selama waktu yang panjang, saya melewati sebuah pergumulan usik dan asyik, antara keinginan daging dan keinginan roh. Dan teks Alkitab dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Roma ini muncul bagaikan bisikan lembut dari Sang Khalik sebagai penengah yang mencerahkan dan memantapkan jalan kepada tahbisan imamat. Maka tulisan dengan judul “Remi Menjadi Jerry: Birlah Rohmu Menyala-nyala dan Layanilah Tuhan” ini menggambarkan bagaimana lika-liku jalanku menggapai imamat. Saya sungguh meyakini, hanya karena keterbukaan terhadap karya Roh Kudus dalam diriku, saya boleh dengan sujud syukur menerima tahbisan imamat, dan dengan sukacita melayani Tuhan selama 25 tahun.

Sebagai seorang anak manusia yang beragama Katolik, saya meyakini, bahwa manusia itu makhluk istimewa, bila dibandingkan dengan ciptaan lainnya yang dijadikan Allah, Sang Pencipta. Manusia  adalah gambar dan rupa Allah (bdk. Kej. 1:26-27). Seperti manusia lainnya, saya hidup karena nafas Allah (bdk. Kej. 2:7). Sejak dibaptis, saya tidak hanya menjadi anggota Gereja Katolik tetapi juga menjadi anak angkat Allah dan kanisah Roh Kudus. “Tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1Kor 6:19). Dan inilah kisah peziarahanku sebagai seorang anak manusia yang sadar diri, -kamu bukan milik kamu sendiri-,  dan yang “terus-menjadi” anak angkat Allah karena ditebus oleh Yesus Kristus dan terbuka tehadap tuntutan Roh Allah yang ada dalam diriku. Remi menjadi Jerry, bukan hanya menggambarkan perjalanan dari lokal ke global, melainkan terutama dari kehidupan yang terikat dengan hal manusiawi duniawi ke kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah; dari cenderung mementingkan kehendak pribadi kepada terbuka dan berserah diri kepada kehendak Tuhan. Terpujilah Allah, Tritunggal Yang Mahakudus!

Remi Bayi dan Anak-Anak
Kebanyakan dari umat paroki St. Bernardus, tempat di mana saya bekerja saat ini, pasti berreaksi binggung dan tidak tahu, bila tiba-tiba ada orang asing muncul di kompleks Gereja Katolik dan Pastoran St. Bernardus, dan bertanya, “Ada pastor Remi?”. Yang ditanya, tentu saja akan balik bertanya, “Siapa pastor Remi!”. Karena nama “Remi” atau “pastor Remi” tidak dikenal di kalangan umat paroki St. Bernardus.

Remi adalah nama panggilan semenjak saya masih bayi hingga menyelesaikan pendidikan menengah atas (SMA), sebelum hijrah ke Papua (waktu itu masih Irian Jaya). Hanya orang-orang yang ada di sekitar saya selama tahun-tahun itulah yang mengenal saya sebagai “Remi”. Maka orang asing yang datang mencari “pastor Remi” itu, pastilah seseorang dari mereka itu; entahkah orang yang dekat dengan saya pada saat kecil di kampung Karlomin, tempat kelahiran saya; entahkah orang-orang dari kampung Letvuan, tempat asal ayah saya dimana selama mengikuti pendidikan sekolah menengah di Langgur, ke sana saya biasa berlibur ke rumah tete-nenek; atau salah seorang dari teman-teman sekolah SMP dan SMA di Seminari Yudas Thadeus Langgur dulu. Remi merupakan penggalan dari nama baptis “Jeremias”.

Saya dibawa Sang Pencipta ke bumi melalui keluarga kudus Andreas Robertus Rumlus dan Godelifa Phoa Rumada. Andreas adalah seorang pemuda berbadan tegap, berisi, dan kekar dari kampung Letvuan, Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan suami-istri Joseph Eris Rumlus dan Maria Boy Tawurutubun. Karena profesi sebagai guru, Andreas meninggalkan kampung Letvuan dan menjalankan tugas sebagai guru muda di kampung Karlomin, di pulau Kesui, Kepulauan Wakate, Seram Bagian Timur. Disanalah guru muda itu menambatkan hati dan cintanya pada Wanty, seorang gadis desa yang cantik, terampil, dan cerdas. Gadis desa itu begitu memikat hatinya sehingga ia berani melamar pujaan hatinya itu tanpa didampingi orang tuanya yang jauh di kampung Letvuan sana.

Wanty, yang sebelumnya adalah seorang perempuan beragama Hindhu, kemudian dibaptis menjadi Katolik dan diberi nama Godelifa. Wanty adalah putri pertama dari enam bersaudara, tiga perempuan dan tiga laki-laki; anak dari pasangan suami-istri Phoa Sie Khawa dan Bin Gul Rumada. Opa Phoa Sie Khawa adalah Cina-totok (asli dari daratan Cina!), sedangkan Bin Gul Rumada adalah blasteran Buton-Kesui. Setelah opa Phoa She Kau meninggal dan dimakamkan di Karlomin, Bin Gul Rumada menikah lagi dengan seorang duda, cina-totok juga, yang bernama Chuan Shing tapi tidak dikaruniai anak. Sebenarnya, bukan tidak dikaruniai anak; memang dikarunia anak tetapi meninggal saat masih bayi. Berbeda dengan Opa Phoa Sie Khawa, yang teguh pada keyakinannya, Chuan Shing dan oma Bin Gul Rumada dibaptis menjadi Katolik, dengan nama Paskalis dan Veronika. Opa Paskalis pun meninggal dunia, mendahului Bin Gul. Bin Gul alias Veronika adalah wanita yang kuat dan hebat.

Andreas dan Godelifa (Wanty) kemudian menikah dan dari rahim sehat dan subur dari perempuan desa itulah lahir sembilan anak, empat putra dan lima putri, buah cinta mereka. Saya, anak ketiga dari sembilan bersaudara, lahir pada malam hari di kampung Karlomin pada hari Selasa tanggal Tujuh bulan Juni Tahun Seribu Sembilan Ratus Enam Puluh. Pada umur sekitar tujuh belas bulan, tepatnya pada tanggal Sepuluh Oktober Seribu Sembilan Ratus Enam Puluh Satu, saya dibaptis oleh Pastor Gerardus Draayis MSC, di Stasi Karlomin  Pulau Kesui, Paroki St. Yohanis Penginjil Masohi (tercatat dalam Buku Baptis, nomor: 113). Pada jelang umur dua belas tahun, tepatnya pada tanggal Lima Belas bulan April tahun Seribu Sembilan Ratus Tujuh Puluh Dua, saya menerima Sakramen Penguatan (Krisma) di Stasi Karlomin, dari Mgr. Andreas Sol MSC, Uskup Keuskupan Amboina, dengan nama Krisma adalah Andreas. Semua peserta Krisma yang laki-laki saat itu diberi nama Andreas, yaitu nama dari Uskup yang menerimakan Sakramen Krisma.

Saya melewati seluruh masa bayi dan kanak-kanak di kampung Karlomin, di sekitar keluarga dan kerabat dekat dari pihak mama  Godelifa. Semasa bayi, saya mengalami kasih sayang ibu yang istimewa: saya minum ASI berlimpah dan lancar karena ibu saya minum rumuan daun-daun obat alami, hasil racikannya sendiri, dan bukannya minum susu sapi; ketika mulai belajar makan, saya disuapi dengan penuh kasih sayang “bubur” pisang masak bakar bukan bubur kaleng; digosoki minyak dan dipijat-pijat dengan lembut sebelum dipakaikan pakaian seusai mandi.

Saya meyakini, bahwa perawatan yang baik penuh kasih sayang dari ibu selama bayi, dan kondisi alam dan suasana kekerabatan di pulau Kesui ketika sebagai anak telah ikut membentuk saya. Karlomin adalah sebuah kampung di pulau Kesui, Kecamatan Kesui Watubela (saat ini; dulu: masih bagian dari Kecamatan Seram Timur), dengan ibukotanya Tamher Timur. Status administratif bisa berubah lebih cepat tetapi letak geografis, topografis, dan iklimnya masih tidak jauh berbeda bahkan masih seperti dulu. Menurut Data BPS Kabupaten Seram Bagian Timur Tahun 2023, secara geografis-astronomis, kecamatan Kesui Watubela terletak antara 4⁰ 45’ 0” – 5⁰ 12’ 0” Lintang Selatan 131⁰ 20’ 0” – 132⁰ 25’ 0” Bujur Timur; dibatasi antara lain oleh Kecamatan Teor di Selatan, Kecamatan Gorom di Utara, Propinsi Papua Barat Daya di  Timur, dan Laut Banda di Barat. Secara topografi kecamatan ini berupa dataran yang memiliki luas 37,58 Km2 yang terletak pada ketinggian 2,00-11,00 meter di atas permukaan laut. Iklimnya dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura, dan Samudra Indonesia; juga dibayangi oleh Pulau Irian (Papua) di bagian Timur dan Benua Australia di bagian Selatan, sehingga sewaktu-waktu terjadi perubahan. Saya bertumbuh dalam kondisi alam (secara geografis dan topografis) yang demikian. Sebagai anak manusia yang lahir dan menjalani masa kanak-kanak di pulau kecil Kesui, sejak kecil saya terbiasa main dengan teman-teman sebaya di laut, lompat dari tebing dan berenang bermain-main dengan ombak, melaut dengan sampan kecil untuk mancing atau “molo” tikam/panah ikan.  Terbiasa  dari kampung ke kampung dengan menumpang perahu kecil atau long-boat (perahu panjang dengan mesin Johnson Yamaha). Kondisi alam dengan dataran rendah, memungkinkan kita dengan mudah berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya, entah untuk silaturahmi dengan kerabat ataupun untuk pesta. Bukan hanya di laut, sayapun terbiasa masuk dan keluar hutan. Dengan teman sebaya biasa panah udang di kali, cari ulat sagu, atau ‘berburuh’ buah ketika musin durian, mangga, cempedak, jambu, dan lain-lain; bahkan berburuh binatang (babi hutan, kuskus) dengan membawa pasukan anjing Jago dan Juara. Bapak Andreas suka berkebun dan bercocok tanam (cengkeh, pala), sehingga saya juga terbiasa ke hutan untuk berkebun dan bercocok tanam.

Saya masuk sekolah pada umur tujuh tahun di SD Naskat Karlomin. Naskat adalah singkatan dari Nasional Katolik. Pada saat itu SD Naskat memiliki satu gedung permanen tetapi hanya tiga ruang kelas; satu ruangan diisi dua kelompok belajar tanpa ada sekat pemisah, dan ada tiga guru (bapak Guru Rumangun, sebagai kepala sekolah; dibantu bapak guru Idi, dan guru Sagat. Andreas Rumlus, bapak saya, menjadi Kepala Sekolah di kampung lain). Ada halaman sekolah yang luas, bisa kejar-kejaran di sana, main kasti, main bola, dan sebagainya. Di lahan sekolah itu juga ada kebun kasbi, hasil kerja anak-anak sekolah. Ada lapangan bola kaki juga di samping sekolah kami. Di sana sering ada pertandingan bola antar kampung untuk membina persahabatan tetapi seringkali juga memicu perkelahian, sebagai aneka warna-warni kehidupan di dusun yang ikut membina karakter seseorang.

Sebagai bagian dari pembinaan anak, setiap pagi ada Doa Angelus di kapela, gereja Stasi. Anak-anak sekolah diwajibkan ikut. Ada sangsi di sekolah, bila ada yang lalai. Biasanya ada absen Doa Angelus, sebelum pelajaran di mulai. Hukumannya macam-macam: misalnya, dipukul (dirotan di betis) oleh guru, diminta membersihkan kebun sekolah, atau berdiri dengan satu kaki di luar kelas di tengah matahari untuk beberapa saat.

Pendidikan yang baik, saya dapatkan tidak hanya di sekolah tetapi juga di dalam keluarga batih atau keluarga inti (nuclear family) sejak masih anak-anak.  Saya lahir sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, tetapi pada kenyataannya saya tumbuh dan besar sebagai anak kedua, karena kakak nomor dua (Gabriel Rumlus) sudah meninggal tidak lama setelah lahir; lahir prematur. Selain banyak saudara kandung, saya juga punya banyak saudara piaraan. Di rumahku yang sederhana ada piaraan seperti anjing, babi, ayam, dan burung (kasturi, merpati). Saya terbiasa menjaga dan merawat binatang piaraan itu. Kakak (laki-laki) dan saya sering dibawa bapak ke kebun, menanam atau memetik hasil kebun, termasuk pala dan cengkeh yang menjadi unggulan hasil bumi di daerah ini. Karena ibu saya adalah seorang perempuan yang memiliki keterampilan menjahit pakaian dan membuat kue (jualan), banyak pekerjaan rumah tangga diserahkan kepada kakak dan saya. Kami  terbiasa melaksanakan pekerjaan rumah tangga (memasak, cuci piring, cuci pakaian, timba air, membersihkan rumah, merawat halaman, termasuk menjajakan jualan kue).

Kampung Karlomin (saat itu) seratus persen beragama Katolik. Di sana ada sekolah dasar Katolik (SD Naskat Karlomin) untuk pendidikan formal bagi anak-anak, termasuk anak-anak beragama Islam dari kampung tetangga; ada Kapela kecil dengan bangunan permanen sebagai tempat Ibadat (Hari Minggu dan Hari Raya); ada Gua Maria di sudut kampung. Ketika bulan Mei atau Oktober tiba, sering dibuka dan ditutup dengan Ibadat Doa Rosario. Bentuk ibadatnya adalah doa rosario dengan merenungkan Lima Peristiwa Rosario. Pembukaannya dilaksankan dalam Gereja kemudian berjalan sambil berdoa rosario dan bernyanyi menuju Gua Maria dan ditutup di sana. Jadi tradisi Katolik seperti ibadat doa rosario, ibadat lingkungan, ibadat Hari Minggu merupakan hal yang biasa. Meskipun perayaan ekaristi mingguan jarang sekali (untuk tidak mengatakan, tak pernah ada) karena pusat parokinya jauh di Masohi, seperti anak-anak lainnya, sejak kecil saya terbiasa dengan rutinitas ibadat tanpa imam itu. Ibadat biasanya dipimpin oleh guru, atau oleh “awam-terdidik” yang sudah terlatih dan terbiasa sejak kecil tetapi juga karena punya modal sedikit berpendidikan sekolah menengah (SMP, SMA, SPG, STM). Saya pun pernah “ditodong” untuk memimpin Ibadat Minggu karena semua guru ada tugas keluar. Waktu kecil, kami selalu diingatkan oleh ibu untuk jadwal ibadat. Ibu marah, bila saya pergi main dengan teman-teman sampai lupa ibadat. Bilamana kami pergi beribadat, terutama pada Hari Minggu, ibu selalu membagikan uang receh untuk kami anak-anaknya membawanya sebagai derma.

Bila hari libur sekolah, tidak jarang saya dipanggil opa dan oma untuk tinggal bersama mereka di desa Utta. Saya mengalami hal yang berbeda di sana. Karena sendirian sebagai anak kecil di rumah, saya diperlakukan istimewa oleh opa dan oma. Sepanjang hari di dalam rumah. Kerjanya cuman main di dalam toko; makan, tidur-bangun, dan belajar. Ada dua tante saya yang masih tinggal di rumah opa-oma selalu mengingatkan saya untuk belajar menulis, membaca, dan berhitung, karena bapa marah kalau saya tidak belajar.

Remi Remaja dan Dewasa
Setelah pendidikan sekolah dasar di Karlomin, saya melanjutkan pendidikan sekolah menengah di Langgur. Kakak saya (Alfons Rumlus) sudah lebih dahulu melanjutkan sekolah di sana. Berbeda dengan kakak saya yang memilih pendidikan lanjutnya adalah sekolah teknik mesin, saya bercita-cita untuk melanjutkan ke pendidikan ekonomi. SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) adalah mimpi saya. Saya tahu SMEP karena di desa Utta, tempat opa-oma, ada sekolah itu. Opa-oma dan tante-tante memang meminta saya untuk melanjutkan sekolah di Utta, tetapi bapak mau supaya saya ke Langgur.

Ada cerita panjang tarik-menarik sekitar pilihan SMEP dan Seminari (SMP Seminari), ketika saya tiba di Langgur. Singkat ceritanya, saya didaftar dan diterima di Seminari Yudas Thadeus Langgur. Tidak mudah bagi saya saat itu memulai irama hidup asrama. Dibangun pukul lima pagi oleh pater rektor atau frater perfek asrama; berat bangun karena masih merasa mengantuk tetapi terpaksa bangun, menyimpan tempat tidur, terus cepat-cepat berjibaku dengan teman lainnya berebut kamar mandi untuk mandi atau sekedar cuci muka karena segera mengikuti acara berikutnya, yakni ibadat dan misa pagi.  Setiap pagi, kita seperti dikejar waktu. Bangun pagi, mandi, misa, siap buku sekolah, sarapan, berangkat sekolah adalah paket rutinitas pagi yang berlangsung cepat dan pasti.

Berbeda dengan rutinitas pagi yang selalu sama, siang hari lebih bervariasi dari hari ke hari. Ada waktu studi, kerja bakti, olah raga, atau rekreasi, entah rekreasi wajib atau bebas. Sebagian besar dari masa remaja, saya jalani di asrama dengan rutinitas itu. Hanya ketika liburan sekolah tiba, saya bisa memilih, entah ke Letvuan di mana saya bisa ikut dengan anak-anak sebaya bermain atau pergi mancing di pulau dengan kakak sepupuh saya; entah ke Karlomin dimana saya menikmati liburan dengan  anak-anak lain yang juga pulang liburan dari Langgur atau dari tempat lainnya.

Saya melewati pendidikan di seminari dengan tiada hambatan secara akademik. Saya merasa bangga karena sebagai anak dari kampung, saya mampu menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA Seminari “yang berat” dengan lancar tanpa ulang kelas, bahkan bisa meraih peringkat satu di kelas kami di semester terakhir SMA. Tentu saja, hasil itu dengan mudah membawa saya ke kelas VII Seminari Menengah, kelas persiapan kala itu untuk melanjutkan ke Seminari Tinggi. Seingat saya, sesudah angkatan kami, tidak ada lagi kelas VII. Ada kebijakan baru, setelah tamat SMA langsung ke seminari tinggi.

Ketika di kelas VII, masih di pertengahan tahun persiapan itu, saya mengundurkan diri. Saya tidak mau melanjutkan studi ke seminari tinggi di Pineleng. Saya merasa tidak mampu untuk hidup selibat. Pater Rektor (RP. Tarsisius Leisubun MSC) meminta saya untuk memikirkan baik lagi keputusan itu. Saya diberi waktu satu minggu untuk membawa keputusan itu dalam doa dan permenungan di biara TMM Langgur. Tetapi karena ketetapan hati sudah ke situ, keputusan akhir tidak berubah. Saya tetap memutuskan untuk tidak melanjutkan ke seminari tinggi dan mau melanjutkan pendidikan ke ABA (Akademi Bahasa Asing) di Makassar. Selama pendidikan di seminari, saya menemukan diri mampu dalam bidang bahasa (asing).

Karena tidak mendapat restu dari bapak Andreas Rumlus, cita-cita itu kandas, tidak kesampaian. Ketetapan hati saya berbeda dengan keinginan bapak. Saya mau ke ABA, tetapi bapak menghendaki supaya saya melanjutkan ke seminari tinggi. Bapak kecewa, tetapi saya juga kecewa. Kami sama-sama kecewa, saling diam. Bapak mengabaikan saya, walaupun mama tetap support, saya mengambil jalan sendiri. Menikmati hidup sesuka hati, itu adalah jalannya. Keinginan daging menimbun keinginan roh. Sekitar tiga tahun saya ada dalam kehidupan itu.

Ada saat di mana saya merasa, bahwa saya tidak akan melanjutkan kuliah lagi sehingga saya perlu melamar pekerjaan. Kebetulan saat itu saya sementara di Langgur, Tual. Ada pengumuman lowongan kerja di Kantor Pengadilan Negeri Tual. Saya melamar ikut testing dan dinyatakan lulus. Saya boleh bangga karena saya adalah satu-satunya dari tingkat SMA yang dinyatakan lulus dan diterima. Sebenarnya saya sudah masuk kerja tanpa aturan ketat yang mengikat, sambil menunggu SK Pengangkatan Pegawai, tetapi saya keburu kabur ke Papua (Irian, waktu itu). Saya lebih memilih ke Papua karena kerja di perusahan asing; lagian, ada jaminan dari Sergius Rumlus, saudara sekampung Letvuan, bahwa saya bisa mendapatkan pekerjaan di Free Port, perusahan asing. Saya merasa cocok dan pasti bisa berhasil karena memiliki kemampuan bahasa Inggeris. Atas jaminan Sergius Rumlus, guru di Asmat tapi bapaknya kerja sebagai Satpam di Port Site (Free Port), dengan menumpang kapal laut, Niko Tawurutubun dan saya berangkat bersamanya ke Papua. Tiba di Port Site, Niko dan saya turun, sedangkan Sergius melanjutkan perjalanan ke Asmat. Kami menumpang di rumah bapak Antonius Rumlus, orang tua dari Sergius Rumlus.

Ternyata untuk menjadi karyawan Free Port, tidak semudah yang dikatakatan saudaraku guru Sergius. Untuk masuk ke Free Port, kita harus masuk melalui perusahan PT. Buma Kumawa. PT Buma Kumawa yang merekrut karyawan. Tetapi tidak setiap saat ada permintaan karyawan. Maka sekitar lima sampai enam bulan, Niko Tawurutubun dan saya, yang sama-sama dari Tual untuk mau kerja di Free Port, menjadi pengangguran di Pulau Keraka, Mimika. Kami tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di Free Port. Kami pisa jalan. Saya diterima sebagai karyawan di kantor PSD YPPK (Pengurus Sekolah Distrik Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) di Kokonao, sedangkan Niko bekerja sebagai tukang di tempat lain di Timika. Secara administratif gerejani, Kokonao adalah bagian dari Keuskupan Jayapura. Tetapi secara pemerintahan, Kokonao adalah bagian dari Kabupaten Fakfak. Saya diterima sebagai karyawan PSD YPPK Kokonao tetapi akan bekerja di Kantor PSW YPPK Fakfak, sebagai perwakilan wilayah Mimika-Agimuga. Waktu itu PSD-nya adalah Ibu Wilhelmina Reyaan, isteri dari Bapak Modestus Rumlus (guru SMP YPPK Le Cocq d’Armandville Kokonao). Kebijakan ini dibuat karena mayoritas guru yang bekerja di yayasan saat itu adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seluruh administrasi kepegawaian mereka harus diurus pada Pemerintah Kabupaten Fakfak. Saya diterima untuk menjalankan tugas itu. Karena bekerja untuk daerah Mimika-Agimuga, saya perlu mengenal guru-guru dan situasinya, sebelum ke Fakfak.

Jerry Rumlus di Perantauan
Kokonao adalah titik berangkat misi perutusan saya di Tanah Papua. Tidak heran bila di Kokonao pula terjadi perubahan nama itu: “Remi” menjadi “Jerry”. Pater Corneles Groenewegen OFM, misionaris asing yang bertugas di Kokonao sebagai Pastor Dekan Mimika-Agimuga waktu itu, memanggil saya sebagai “Jerry”. Hari-hari saya di Kokonao, nama Remi dan Jerry masih dipakai berdampingan.

Di Kokonao saya mulai mengenal pastor Amandus Rahdat, imam Keuskupan Jayapura, yang juga bertugas di sana. Pastor Amandus senang tourne dan dekat dengan umat dan masyarakat, sehingga saya sering tourne bersama beliau. Ada banyak pengalaman baru, indah, dan memengaruh bagi saya, selama tourne ke kampung-kampung bersama pastor Amandus. Beliau pernah meminta saya untuk melanjutkan studi ke STFT Fajar Timur. Tetapi, saya hanya menanggapi dingin dan menyimpan saja perkara itu dalam hati. Di Kokonao juga, saya pertama kali bertemu Mgr. John Philips Saklil (almarhum) yang saat itu masih frater. Ada kisah menarik yang tak terlupakan. Lagu Nyanyian Komuni (MB No. 293) diplesetkan frater John Saklil. Ketika hidangan “berlimpah” sudah disiapkan tuan rumah dan diajak untuk makan, frater John mengubah lagu itu. Seharusnya, “Makan minumlah tawaran dari Allah” diubah menjadi “makan minumlah tawaran dari …. (menyebut keluarga yang menyiapkan hidangan). Kisah itu terjadi di Kaugapu, Mimika Timur. Frater John hanya sekali itu ikut dalam perjalanan tourne kami, karena ia hanya sebentar saja di Kokonao untuk berlibur di rumah orang tuanya di Kokonao. Tetapi pengalaman kebersamaan sekali itu, sungguh menyenangkan dan tak terlupakan.

Setelah menjelah wilayah Mimika (dari Barat hingga Timur), selama kurang lebih enam bulan. Atas rekomendasi baik dari pater Corneles OFM, saya dianggap layak untuk menjadi perwakilan daerah Mimika-Agimuga di Fakfak.

Pada awal tahun 1986, saya berangkat ke Fakfak dan bekerja di Kantor PSW YPPK Fakfak. Saya tinggal di rumah misi, rumah milik Keuskupan Manokwari-Sorong, di Paroki St. Yosep Fakfak. Rumah itu dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai “rumah bujang” karena penghuninya semuanya bujang, dan menjadi tempat “nongrong” orang muda juga. Setelah percobaan sekitar enam bulan, saya menandatangani kontrak kerja dengan YPPK untuk tiga tahun (Juli 1986 – Juli 1989). Ketua YPPK Fakfak (PSW) waktu itu adalah bapak Yosep Bere (almarhum), mantan imam Serikat Sabda Allah (SVD). Pengalaman pekerjaan di kantor mulai dari mengurus kebersihan kantor, mengatur administrasi surat masuk-keluar, administrasi kepegawaian hingga menangani keuangan (bendahara dan juru bayar YPPK). Rekan kerja kami adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak. Urusan administrasi kepegawaian hingga Pembayaran gaji guru YPPK (guru Yayasan maupun PNS), diatur melalui kantor PSW.

Saya dikenal dan dekat dengan pastor-pastor yang bekerja di Fakfak, bukan hanya karena rumah dan kantor dekat dengan pastoran tetapi juga karena saya terlibat dan aktif dalam kegiatan menggereja. Saya aktif dalam kegiatan orang muda; bahkan sempat didaulat sebagai ketua MUDIKA (Muda-mudi Katolik), istilah untuk OMK (Orang Muda Katolik) jaman itu. Selain pastor Jan Warpopor Pr dan Frater John Bosco Ngamelubun, saya masih mengalami misionaris Piet Tuyp OSA dan van Drill OSA, selama saya bekerja di Fakfak waktu itu.

Bekerja pada Yayasan milik Gereja Katolik dan dekat dengan pastor-pastornya tidak menjamin bahwa jiwa muda seorang anak manusia steril dari hal-hal duniawi. Saya termasuk satu dari antara orang-orang muda dan punya uang yang suka foya-foya dengan duitnya. Wajar saja bila ada orang-orang yang ragu dan mencibir ketika saya diterima untuk melanjutkan studi ke STFT Fajar Timur. Tetapi saya setia pada pekerjaan dan mampu melaksanakan tugas dengan baik. Saya yakin, rekomendasi pimpinan untuk studi lanjut bagi saya adalah bukti kemampuan dan kualitas kerja saya. Mungkin juga, bahwa kedekatan dengan para pastor itu pulalah yang  memudahkan saya mendapatkan rekomendasi pimpinan untuk mengikuti pendidikan tinggi di STFT Fajar Timur Abepura, Jayapura. Selama di Fakfak, nama Remi masih dipakai berdampingan dengan nama Jerry. Pastor-pastor misionaris lebih suka memanggil saya, dengan nama “Jerry”.

STFT Fajar Timur: Jerry Menyala 
Selesai masa kontrak 3 (tiga) tahun dengan YPPK, saya tidak diminta untuk memperpanjang masa kontrak melainkan direkomendasikan untuk studi lanjut. Tanpa hambatan yang berarti, saya lulus testing dan diterima untuk belajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura. Saat itu STFT Fajar Timur belum mengkhususkan diri untuk pendidikan calon imam melainkan pendidkan calon petugas pastoral. Sehingga saya berangkat ke STFT tanpa ada bayangan bahwa akan menjadi imam. Saya malah berpikir, saya diminta studi untuk kembali kerja di PSW YPPK Fakfak.

Mahasiswa STFT kala itu terdiri dari mahasiswa yang dikirim oleh ordo/tarekat (seperti OSA, OFM, OSC) atau oleh keuskupan (ada laki-laki dan perempuan). Saya termasuk yang dikirim oleh Keuskupan Manokwari-Sorong. Saat itu ada yang namanya: ADIOS (awam diosesan), calon petugas pastoral awam dan CONDIOS (Confratres Diosesan), calon imam diosesan. Saya memilih gabung dengan kelompok CONDIOS.  Tidak ada kendala yang berarti, malah enjoy saja, saya menyelesaikan studi sarjana dalam waktu normal empat tahun. Selama studi di STFT Fajar Timur, nama Remi menghilang dan nama Jerry terus berkibar di udara hingga saat ini.

Saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yosep Ayawasi tahun 1993/1994, di bawah bimbingan Yonathan Fatem Pr, Pastor Paroki; dengan Pastor Rekannya, John Bosco Ngamelubun Pr. Menurut catatan Dosen Pembimbing TOP, pater Greg Poser OSC, Jerry lulus TOP “magna cum laude” (Lihat: Surat Evaluasi Akhir Tahun Orientasi Pastoral, tertanggal: Abepura, 27 Juni 1994). Permohonan saya untuk menjadi calon imam diosesan diterima, sehingga bapak Uskup Hadi meminta saya untuk mengikuti Tahun Rohani (TR) pada tahun 1994/1995 di Agats, Asmat. Direktur Program TR Irian Jaya kala itu adalah Virgil Petermeier OSC; sedangkan teman-teman peserta Tahun Rohani adalah Marsialis Magnus (Keuskupan Manokwari-Sorong), Linus Kamenong (Keuskupan Merauke), dan John Tawa (Keuskupan Jayapura). Uniknya TR waktu itu ada peserta tiga suster muda: Sr. Berlinda Renwarin OSU, Sr. Magda OSU, dan Sr. Opi TMM. Setelah dinyatakan lulus TR, saya diminta untuk langsung mengikuti Prgram ‘PS’ (Pasca Sarjana) di STFT Fajar Timur pada Tahun Ajaran 1995/1996.

Jerry: Dari Merdey Sampai Ke Kantor Keuskupan

Kembali ke Sorong (Keuskupan) setelah merampungkan seluruh proses pendidikan calon imam pada Juli 1997. Oleh Uskup (Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm), saya diminta untuk menjadi Pastor Paroki di Paroki Salib Suci Merdey. Tetapi sebelum berangkat ke Merdey, saya diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri menjadi pastor paroki dengan magang selama sekitar 2 (dua) bulan di Paroki St. Fransiskus Xaverius Makbusun di bawah bimbingan Pastor Vincen Sugondo SJ. Pada musim kemarau panjang September 1997, didampingi Pastor Anton Tromp OSA, Pastor Paroki St. Agustinus Manokwari saat itu, kami diantar dengan pesawat kecil jenis Ceasna (milik AMA) ke Merdey dari bandara Rendani Manokwari.

Masuk ke Merdey masa itu, ibarat masuk ke jantungnya Tanah Papua. Kita berjumpa dengan alam asli Papua, dengan manusia-manusia Papua yang belum banyak tersentuh pengaruh luar.  Akses transportasi ke sana hanya dengan pesawat kecil Ceasna, dan komunikasi dengan dunia luar dengan radio SSB (Single Sideband), milik AMA (Associated Mission Aviation). Ini bukan pertama kali saya masuk ke jantungnya Tanah Papua, karena sebelumnya saya pernah selama satu tahun menjalani masa Tahun Orintasi Pastoral di Paroki St. Yosep Ayawasi (1993/1994). Bedanya, ketika di Ayawasi, saya datang sebagai mahasiswa; sedangkan di Merdey sebagai “pastor”, atau lebih tepat “belajar menjadi pastor”, tapi tanpa pembimbing. Ini yang dikenal dalam dunia pendidikan sebagai “do school”, learning by doing. Kecuali pimpin misa, semua pekerjaan pastoral lainnya, saya kerjakan sendiri. Di sini saya belajar hidup dan bina  kerjasama dengan manusia Papua. Tetapi saya sungguh menikmatinya. Kondisi alam dan perjalanan tourne yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, masuk hutan, mendaki dan menuruni bukit di celah-celah pepohonan, menyeberang  kali, sungguh pengalaman yang mengasyikkan karena mengingatkan saya akan masa kecil di pulau Kesui.

Pada tahun 1999 saya dipindahkan ke Kaimana karena bapak Uskup Hadi tahu, saya mau menjadi imam, sehingga saya perlu dibimbing oleh seorang imam senior. Tepat pada 17 Agustus 1999, saya tiba di Kaimana. Dalam bimbingan pastor Winarto, seorang imam diosesan dari Keuskupan Agung Semarang, pastor paroki St. Martinus Kaimana kala itu, saya dipersiapkan menjadi imam. Atas rekomendasi pastor Win, saya dianggap layak untuk menerima tahbisan diakon dari Uskup Hadi pada Februari 2000 di Katedral Kristus Raja Sorong. Setelah menjalani masa diakonat selama kurang lebih 6 (enam) bulan di Paroki St. Martinus Kaimana, saya ditahbiskan menjadi imam bersama dua teman saya dari Ordo St. Agustinus, Pastor Aloysius Teniwut dan pastor Karnelis Bame (almarhum) oleh Uskup Hadi pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, 25 November 2000, di Katedral Kristus Raja Sorong.

Tugas pertama sebagai imam adalah menjadi pastor paroki di Paroki St. Lukas Babo, berlaku 01 Januari 2001, tetapi saya baru tiba di tempat tugas pada 07 Maret 2001. Salah satu misi saya waktu itu adalah memindahkan pusat paroki dari Babo ke Tofoi. Babo memang pusat kecamatan kala itu tetapi Babo itu pulau kecil, dan umat katolik tidak begitu banyak. Kalau tourne, pastor harus menyeberang laut atau sungai dengan pakai perahu. Sementara konsentrasi umat lebih banyak di Stasi Kristus Terang Dunia Tofoi. Dan lagi, dari Tofoi akses ke kampung-kampung (stasi-stasi sekitar), seperti daerah Satuan Pemukiman Transmigrasi (SP-1 dan SP-2), Saengga, Tanah Merah, Aroba, hingga Fruata lebih mudah karena bisa dijangkau lewat jalan darat. Karena itu sejak pertama tiba di Paroki St. Lukas Babo, saya tidak menetap di pusat paroki di Babo melainkan di Tofoi. Dan puji Tuhan, lewat pendekatan persuasif dan dengan dialog dari hati ke hati, saya berhasil meyakinkan umat, sehingga misi itu bisa berhasil. Pusat paroki dipindahkan ke Tofoi, dan Paroki St. Lukas Babo berubah nama menjadi Paroki Kristus Terang Dunia Tofoi hingga sekarang ini. Sementara Babo kembali menjadi stasi dengan nama Stasi St. Petrus Babo dan menjadi bagian dari Paroki Kristus Terang Dunia Tofoi. Tahun pertama di Tofoi, saya dibantu oleh frater Medardus Puji Harsono; sedangkan tahun kedua bersama frater Fransiskus Katino. Puji Tuhan, seperti saya, mereka juga masih tegap berdiri sebagai imam diosesan Kauskupan Manokwari-Sorong yang handal hingga kini. Saya tidak heran bila hari ini kita menyaksikan ada banyak bibit panggilan (calon imam) datang dari Paroki Kristus Terang Dunia Tofoi. Seingat saya, dua pastor OSA saat ini (Paulus Wellem “Yap” Ulipi OSA dan Gabriel Pangan Dorisara OSA) mulai muncul untuk menjadi calon imam, ketika saya pastor di Tofoi.

Pada 13 Agustus 2003, saya pamit dengan umat dan masyarakat di Paroki Kristus Terang Dunia Tofoi, dan meninggalkan Tanah Sumuri pada 14 Agustus 2003. Lebih dari dua tahun di Tofoi, saya menyaksikan Kebenaran Firman Tuhan ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, atau saudaranya perempuan, ibunya, atau bapanya, anak-anaknya, atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak, dan ladang sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Mrk 10:29-30). Hidup yang kekal, memang masih akan datang. Entahlah, nanti! Tetapi saat ini, saya telah menemukan banyak bapak yang menolong saya. Saya mendapatkan begitu banyak ibu yang merawat saya dengan penuh kasih sayang. Saya menjumpai banyak saudara dan saudari yang mencintai saya. Saya tidak berkekurangan. Terpujilah, Tuhan!
<span;>Pada Agustus 2003 saya memulai tugas baru di Fakfak, menjadi Pastor Paroki St. Yosep Fakfak. Enam tahun menjadi Pastor Paroki dan sekitar lima tahun menjadi Ketua Tim Pastoral Wilayah Fakfak, saya makin mantap menjadi pelayan Sang Firman. Saya sudah merasa nyaman sebagai Pastor Paroki. Salah satu tanda dekat-akrab dan nyaman bersama umat dan para Pastor TPW Fakfak kala itu  adalah keberhasilan mengkoordinir satu perayaan akbar “Perayaan Syukur Lustrum Pertama Mgr. H. Datus Lega sebagai Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong”, yang dilaksanakan di GOR Krapanit Gewab Fakfak pada 07 September 2008. Perayaan akbar karena melibatkan umat katolik dari empat paroki di TPW Fakfak, dengan misa dan resepsi meriah, dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Fakfak. Sehingga ketika ada tawaran Bapak Uskup Datus untuk menjadi Rektor Seminari Petrus van Diepen (SPvD), saya agak keberatan. Tetapi saya tidak bisa melanggar janji setia kepada Bapak Uskup. Apapun tugas, dan di manapun diutus, saya wajib melaksanakan.

Pada September 2009 saya meninggalkan zona nyaman di paroki, dan memulai tugas perutusan baru di lembaga pendidikan SPvD. Dan pada Sabtu,09 Januari 2010, ditandai dengan acara serah terima Jabatan Rektor Seminari dari Pastor Anton Tromp OSA kepada Pastor Jerry Rumlus Pr, saya resmi menjadi Rektor SPvD. Simple saja mimpi saya, saat awal tugas sebagai Rektor SPvD. Saya mau agar setiap anak yang masuk di seminari ini wajib menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di sini. Pulang (keluar) boleh, tapi setelah tamat, dengan membawa ijazah SMP dan atau SMA. Amat baiklah bila tidak ada yang dipulangkan saat masih duduk di bangku kelas satu atau kelas dua. Saya tahu selama ini (ketika saya belum kerja di seminari tetapi di paroki di Fakfak) banyak anak, termasuk banyak dari Fakfak, yang dipulangkan karena aneka alasan, seperti kasus pencurian, suka bolos, tidak disiplin, dan atau “bodoh” (tidak memenuhi target akademik sekolah). Saya tidak mau hal itu terjadi lagi, ketika saya menjadi rektor. Karena saya tahu SPvD ini didirikan oleh Uskup Datus, antara lain, untuk memperbaiki mutu pendidikan dasar di Tanah Papua. Seminari ini adalah tempat pertama bagi anak-anak Papua dari berbagai pelosok Tanah Papua yang merindukan pendidikan yang baik dan bermutu. Itu artinya seminari ini siap menerima dan membina anak-anak yang nakal dan bodoh juga, bukan hanya anak yang baik dan pintar. Maka, apalah artinya saya di sini, bila dengan mudah mengeluarkan anak-anak karena kedapatan mencuri, bolos, tidak disiplin, dan atau tidak memenuhi standar tuntutan akademik? Apalah artinya seminari ini,  bila keadaannya terus demikian? Apalah jadinya bila semua lembaga pendidikan hanya menerima anak-anak yang dianggap baik dan pintar? Bukankah anak-anak yang dianggap nakal dan bodoh akan terabaikan? Bukankah, dengan itu, kita berlaku tidak adil terhadap banyak anak negeri ini? Maka saya mau, agar setiap anak yang masuk seminari ini wajib dibantu untuk menyelesaikan pendidkannya di sini.

Pada akhir masa tugas perutusan di SPvD, saya merasa gagal. Saya tidak berhasil memenuhi mimpi “menghentikan tradisi mengembalikan anak” ke orang tuanya sebelum tamat SMP dan atau SMA. Tetapi upaya sudah dimulai, dan tetap menjadi titipan PR (Pekerjaan Rumah) untuk rektor dan para pembina dari waktu ke waktu. Saya tahu, dan saya mau umat dan masyarakat juga tahu, rektor dan para pembinanya telah memberikan pelayanan terbaik dari apa yang bisa mereka persembahkan. Tetapi, keberhasilan pendidikan di SPvD tidak semata tergantung pada rektor, para pengajar, dan pembinanya. Peran orang tua, dukungan para imam, umat dan masyarakat juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak-anak yang dibina di SPvD. Dokumen Konsili Vatikan II, dalam Dekrit tentang Pembinaan Imam (Optatam Totius), menunjukkan peran penting keluarga sebagai seminari pertama (OT 2), dan meminta para imam memandang seminari sebagai jantung keuskupan (OT 5). Bapak Uskup Datus, sebagai pendiri SPvD dan pimpinan Keuskupan, telah menunjukkan komitmen dan perhatian istimewa untuk SPvD. Saya percaya, atas dukungan semua pihak, SPvD akan terus memberikan sumbangan besar bagi kemajuan umat dan masyarakat di Tanah Papua. Untuk menjaga asa dan menumbuhkan optimisme kita untuk SPvD, saya meninggalkan catatan dari saudaraku, Pastor Adri Tuturop (Rektor SPVD), bertepatan dengan HUT SPvD yang ke-20. Pastor Adri mencatat, tidak kurang dari lima belas imam yang terdokumentasi sebagai alumni SPvD, seperti dari imam KMS (9 orang); OSA (5 orang), dan SVD (1). Sejaka adanya SPvD, akhir-akhir ini mulai dari panen pertamanya Pastor Daniel Gobai (tahbisan tahun 2020), hampir setiap tahunnya ada tahbisan imam diosesan untuk KMS (belum termasuk imam religius), hasil dari SPvD. Itu untuk yang memilih jalur imamat. Tentu saja, lebih banyak lagi Putra dan Putri Papua yang tidak memilih jalur imamat dan sudah berhasil karena SPvD. Saya mengenal beberapa yang berhasil, entah sebagai PNS, Guru, Dosen, Dokter, Polisi, Tentara, maupun sebagai Karyawan Swasta, yang sudah tersebar di seluruh Tanah Papua. SPvD, teruslah maju, mandiri, dan bermartabat!

Karena diminta Uskup Datus untuk menjadi Sekretaris Keuskupan Manokwari-Sorong, saya meninggalkan SPvD. Bertepatan dengan Pesta Para Malaikat Agung, pada Jumat 29 September 2017, saya menyerahkan Jabatan Rektor kepada saudara saya, Pastor Adrianus Tuturop Pr. Menjadi Sekretaris untuk sebuah lembaga terhormat seperti Keuskupan Manokwari-Sorong, sesungguhnya menggetarkan seluruh jiwa-raga saya. Siapalah saya ini sehingga mengemban jabatan sekretaris di lembaga terhormat itu. Tetapi saya tahu, Bapak Uskup yang telah memberikan amanah ini, sungguh percaya akan kemampuan saya; dan beliau pasti akan terus membimbing saya. Saya pun yakin akan perlindungan Para Malaikat Agung dan tuntutan Roh Kudus yang sejak awal telah menyalakan komitmen pelayanan saya sebagai imam di Tanah Papua.

Saya memulai tugas sebagai Sekretaris Keuskupan pada 30 September 2017. Kantor Keuskupan berkedudukan di Jalan Ahmad Yani 83, Kota Sorong. Sementara masih sebagai Sekretaris Keuskupan, sebuah amanah baru dipercayakan Uskup kepada saya. Tepatnya, pada 02 Juni 2019 saya memulai tugas sebagai Pastor  Paroki St. Bernardus. Paroki St. Bernardus terletak di Jalan Sawi, Malawele Aimas, Kabupaten Sorong. Dengan tugas baru ini, sebagai Pastor Paroki saya menetap di Aimas, di Kabupaten, sementara sebagai Sekretaris Keuskupan, saya berkantor di Kota Sorong. Maka Pulang-pergi Kabupaten antara Kota adalah rutinitas harian saya sejak tahun 2019 hingga kini. Rutinitas tugas dari tempat ke tempat itu pulalah yang telah saya jalani sebagai pastor, mulai dari Merdey hingga Kantor Keuskupan Manokwari-Sorong. Saya merasa terberkati, karena di saat boleh merayakan Syukuran 25 Tahun Imamat, selain bertepatan dengan Tahun Yubileum 2025 yang ditetapkan Paus Fransiskus, saya diperkenankan memegang jabatan rangkap itu, sebagai Sekretaris/Kepala Kantor Keuskupan sekaligus Pastor Paroki. Bila sebelumnya saya melayani satu bagian dari Keuskupan, entah di Paroki atau Lembaga Pendidikan, kina saya boleh melayani seluruh keuskupan dari Pusat Keuskupan. Terpujilah, Karya Tritunggal Yang Mahakudus.
Semoga Perayaan Syukur ini membawa damai dan sukacita juga bagi para pihak yang membawa dan mendukung saya hingga boleh menikmati sukac