Renungan Harian: Mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan

91

Renungan Harian, Senin, 24 November 2025
Peringatan Wajib S. Andreas Dũng-Lạc, Imam, dan Kawan-Kawan Martir

Bacaan I: Dan 1:1-6.8-20
Mazmur Tanggapan: T. Dan 3:52-56
Bait Pengantar Injil: Mat 24:42a.44
Bacaan Injil: Luk 21:1-4

Salah satu wujud kehadiran iman dalam hidup sehari-hari adalah kerelaan untuk memberi—bukan karena kita berlimpah, tetapi karena kita mau berbagi kasih dan merasakan denyut hidup sesama. Memberi bukan sekadar tindakan, tetapi persembahan hidup yang kita arahkan kepada Tuhan. Di dalamnya ada kasih, kepercayaan, dan penyerahan diri.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyoroti sikap seorang janda miskin yang memberi hanya dua peser—nilai yang sangat kecil secara materi, tetapi sangat besar secara rohani. Yesus berkata, “Janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu… sebab ia memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (Luk 21:3-4).

Janda miskin itu tidak memberikan “sisa”, tetapi “seluruh hidup”. Di mata dunia, itu kecil. Di mata Tuhan, itulah yang terbesar. Ia tidak memberi karena mampu, tetapi karena percaya. Ia tidak menimbang seberapa banyak yang ia miliki, tetapi seberapa besar cintanya kepada Allah.

Kita tahu bahwa pada zaman itu, kaum janda termasuk kelompok yang paling rentan—disamakan dengan yatim piatu, sering tak berdaya secara sosial maupun ekonomi. Namun justru dari seorang yang dianggap “lemah”, Yesus memperlihatkan teladan iman yang paling kuat.

Hari ini Gereja juga mengenangkan Santo Andreas Dũng-Lạc dan para martir Vietnam—orang-orang yang menyerahkan seluruh hidup mereka demi Kristus. Mereka, seperti si janda miskin, memberi bukan dari kelimpahan, tetapi dari totalitas cinta. Hidup dan mati mereka menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan.

Kita pun dipanggil untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan, bukan sekadar dalam bentuk materi, tetapi: perhatian yang tulus, waktu yang kita luangkan, tenaga yang kita berikan, kesetiaan dalam tugas sederhana, pengampunan yang kita berikan meski sulit.

Mother Teresa pernah berkata: “Jika kita tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Persembahan yang kecil di mata manusia dapat menjadi besar di mata Tuhan jika disertai hati yang murni dan cinta yang tulus.

Semoga teladan janda miskin dan para martir kudus menggerakkan kita untuk hidup lebih murah hati, lebih bersyukur, dan lebih total bagi Tuhan.

Tuhan memberkati. Ave Maria!