Renungan Harian, 1 Januari 2026
Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Bacaan I: Bilangan 6:22–27
Mazmur Tanggapan: Mazmur 67:2–3.5.6.8
Bacaan II: Galatia 4:4–7
Bait Pengantar Injil: Ibrani 1:1–2
Bacaan Injil: Lukas 2:16–21
Semalam kita telah meninggalkan tahun 2025 dan kini melangkah memasuki tahun 2026. Peziarahan hidup di tahun yang baru ini masih panjang, penuh misteri, dan tidak selalu mudah ditebak. Namun demikian, setiap dari kita tentu melangkah dengan berbagai harapan dan ekspektasi. Kita berharap hidup semakin sejahtera, baik secara jasmani maupun rohani. Kita merindukan kesehatan, keharmonisan keluarga, kelancaran pekerjaan dan usaha, keberhasilan studi, serta sukacita yang menyertai setiap langkah hidup kita.
Sebagai orang beriman, harapan-harapan itu tidak sekadar digantungkan pada kemampuan dan rencana manusiawi semata. Harapan kita berakar dan berpuncak pada Allah, satu-satunya Penolong dan Penyelenggara hidup. Dialah yang memberkati, menjaga, dan menghadapkan wajah-Nya kepada kita, seperti ditegaskan dalam berkat imam dalam Bacaan Pertama: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.” Kita boleh merancang, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Maka, harapan kita hendaknya selalu selaras dengan kehendak-Nya.
Bacaan Kedua menegaskan bahwa dalam kepenuhan waktu, Allah mengutus Putra-Nya, yang lahir dari seorang perempuan, supaya kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Melalui Yesus Kristus, kita bukan lagi hamba, melainkan anak; dan sebagai anak, kita adalah ahli waris janji Allah. Inilah dasar iman dan pengharapan kita: Allah sungguh menyertai perjalanan hidup manusia.
Pada Hari Raya Santa Maria Bunda Allah ini, Gereja mengajak kita menimba inspirasi dari Bunda Maria. Ia sungguh Bunda Allah, yang dengan rendah hati menerima kehendak Tuhan dan mempersembahkan seluruh hidupnya dalam ketaatan iman. Maria tidak sepenuhnya memahami misteri yang ia jalani, namun ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan menyerahkannya kepada Allah. Dalam kesatuan dengan-Nya, Maria dikuatkan untuk menapaki jalan yang penuh sukacita sekaligus penderitaan bersama Putranya.
Dari Maria, kita belajar sikap berserah diri dan kepercayaan total kepada Allah. Di awal tahun 2026 ini, kita pun diajak untuk mempersembahkan seluruh hidup dan peziarahan kita kepada Allah Sang Penyelenggara Ilahi. Kita bertekuk lutut dalam penyerahan diri, sambil terus berjuang mengolah hidup rohani dengan tekun dan setia. Kita menjalani setiap tugas dan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita dengan tanggung jawab dan ketulusan hati. Kita memelihara kerukunan dan cinta kasih dalam keluarga, komunitas, masyarakat, dan bangsa.
Semoga di sepanjang tahun 2026 ini, berkat Allah senantiasa melimpah atas hidup kita: berkat kesejahteraan, kesehatan, kesuksesan, dan sukacita sejati.
Selamat Tahun Baru 2026. Tuhan memberkati. Ave Maria.





